Will today be raining?

a tale of rain drop


Leave a comment

[Cerpen] Rembulan

Rembulan

Malam itu langit dipenuhi awan tebal, menyembunyikan bintang – bintang dari penglihatan. Meski saat itu bulan purnama tetapi bumi terasa gelap gulita. Aku berjalan melewati malam secara perlahan. Bersembunyi dalam ketakutan, malu untuk memperlihatkan sosokku yang buruk. Sesekali aku mengintip dan langitpun menjadi terang, kemudian aku bersembunyi tetapi langit kembali menjadi gelap. Aku ingin melihat apa yang ada di bawah sana tetapi tidak ingin sosokku terlihat.

Sekilas kulihat secercah bayangan yang cantik di permukaan danau, di bawah itu, sesosok cahaya putih bersih. Awan tebal menyelimuti langit, menghilangkan cahaya dari permukaan bumi. Aku hendak melihat sosok cahaya itu tetapi tidak dapat kukumpulkan keberanianku. Aku malu jika ia melihat diriku. Secara perlahan kuintip permukaan danau itu, tetapi langit seakan menjadi musuhku, ia menjadi terang. Aku pun kembali ketakutan dan bersembunyi, dan langitpun kembali kelam.

Siapakah dia, sosok yang begitu cantik di atas permukaan danau itu? Aku hendak memandang wajahnya, aku hendak melihat sosoknya. Tetapi aku tidak berani memperlihatkan wajahku yang buruk padanya. Setiap aku ingin melihatnya, langit menjadi cerah, dan aku pun takut sosokku terlihat. Setiap kali aku bersembunyi, langit pun kembali menjadi kelam, seakan mempermainkan diriku.

Aku hendak memarahi langit yang mempermainkanku. Aku hendak melampiaskan kekesalanku yang tidak dapat melihat dirinya. Aku menimbang dan menimbang. Akankah aku dapat melihat sosoknya lagi kelak? Jangan – jangan aku tidak dapat melihatnya lagi nanti. Jangan – jangan aku tidak dapat bertemu dengan dirinya lagi kelak. Keragu-raguan memenuhi hatiku. Aku pun mengumpulkan segenap keberanianku, membulatkan seluruh tekadku. Aku keluar dari balik persembunyianku dan kulihat sosok bayangan itu. Seketika langit menjadi cerah, memperlihatkan segalanya dengan lebih baik padaku. Kulihat dengan baik bayangan itu, putih dan cantik adanya, terpantul di atas permukaan danau. Sesosok bayangan bulan purnama yang indah.

“Inikah diriku? Pantulan bayanganku sendiri? Apakah yang kukejar selama ini?”, Tanyaku dalam hati. Akupun keluar dari dalam persembunyianku. Awan – awan menjauh karena sinarku. Bintang – bintang seakan – akan ikut bertepuk tangan bersama denganku. Para makhluk di bumi bersorak menyambut kemunculanku. Lolongan serigala, Seruan serangga, Bisikan hewan melata, dan kilauan kunang – kunang di sekitar danau menyambut diriku di malam itu. Malam pertama aku menemukan siapa diriku sebenarnya.


Leave a comment

[Review] Film 2012

2012


Film ini adalah salah satu film “apokaliptik” tahun 2009. Film ini menceritakan bahwa dunia akan berakhir menurut penanggalan kalendar maya yang “berakhir” pada tanggal 21 December 2012 (12-21-12).  Pada tahun 2009, seorang Ilmuwan menemukan keanehan pada matahari. Semburan lahar matahari menyebabkan adanya suatu reaksi fisika yang menghasilkan partikel bernama neutrino. Partikel ini dapat menembus permukaan bumi dan menuju ke dalam inti bumi. Hasil akhir dari hal ini adalah inti bumi akan memanas dan membuat kerak bumi (lempengan daratan) tidak stabil.

Tentu saja film ini adalah sebuah karya fiksi, meski ada berbagai pihak yang menyatakan film ini merupakan sesuatu yang tidak baik dan mengajarkan hal yang sesat. Padahal, “hampir” sebagian besar penonton tentunya tahu untuk memilah mana yang benar dari yang salah, dan tentulah mereka (sebagian besar) itu sadar bahwa film yang mereka tonton adalah fiksi, rekaan, karya hollywood.

Hal yang disampaikan oleh sebuah karya sastra dan seni bukanlah apa yang terlihat di hadapan. Seringkali sebuah karya seni dan sastra lebih sulit untuk ditafsirkan daripada sekedar karya ilmiah. Sebuah tarian dengan gerakan yang berani dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual, padahal di balik tarian tersebut yang ingin disampaikan adalah semangat, keberanian, dan kealamian. Akan tetapi banyak orang yang tidak menyadari hal ini karena telah sejak lama manusia hanya dipaksa untuk menggunakan otak kirinya, semakin lama manusia kehilangan hati nuraninya.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang dinyatakan mengenai film ini, ada beberapa hal menarik yang saya tangkap dari film ini. Bukankah film ini mengajarkan suatu hal yang baik? Ia mengingatkan manusia akan arti kemanusiaan, ia mengingatkan manusia betapa tidak berartinya manusia (bahwa manusia hanya sesuatu yang akan kembali menjadi tanah), ia mengingatkan manusia akan arti menjadi manusia (makhluk rendah yang selalu menganggap dirinya adalah tuhan – tuhan kecil), arti kejujuran untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati di saat – saat terakhir hidup.

“At least, they may be able to embrace each other and say good bye to the one they love.”

Film ini memiliki banyak humor – humor menggelitik yang dikemas secara baik. Humor – humor tersebut muncul di saat – saat tegang tanpa merusak ketegangan dari film itu sendiri. Aksi – aksi di dalam film juga memberikan banyak ketegangan meski satu kebetulan disusul dengan kebetulan yang lain menyebabkan munculnya keberuntungan yang terlalu dilebih – lebihkan. Secara keseluruhan, film dengan durasi 158 menit ini merupakan sebuah film yang wajib untuk ditonton.

Rating : 8.2/ 10

IMDB Rating : 6.7 / 10


2 Comments

[Cerpen] Metropolitan

Metropolitan


Apart01

Seorang pria paruh baya dengan bersetelan jas rapi turun dari sebuah mobil mewah di depan apartemen ternama kota metropolitan tersebut. Dia berjalan sambil membawa tas kerjanya menuju pintu masuk apartemen tersebut. Pekerja yang bertugas di pintu masuk itu segera membuka pintu itu sembari memberi salam kepada pria tersebut. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil ketika melewatinya. Dengan langkah yang sigap ia berjalan ke arah lift yang sedang terbuka.

Seorang wanita muda dengan pakaian rapi berwarna merah terlihat siaga di alam lift tersebut. “Ke lantai berapa pak?”, Tanya wanita di dalam lift tersebut dengan ramah. “Tujuh”, jawab pria itu dengan singkat. Tidak lama setelah wanita tersebut menekan angka tujuh, lift pun mulai melaju naik. Tanpa terasa pria tersebut pun sudah mencapai tempat yang diinginkannya. Pria itu sudah berada di depan kamarnya.

Begitu pria itu masuk ke dalam kamarnya, dihempaskan tas kerjanya ke atas sofa yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Ia menuju ke lemari pendingin yang terletak di belakang bar kecil. Diambilnya sebakul penuh es dari lemari pendingin tersebut dan dimasukkannya beberapa ke gelas whiskynya. Sebotol whisky baru yang masih terletak di dinding dekat bar dibukanya. Dari bibir botol tersebut mengalir ke dalam gelas, cairan berwarna kuning keemasan, bersinar akibat pantulan lampu ruangan yang temaram.

Whisky yang baru dituangnya itu tidak disentuhnya. Segelas whisky itu masih berada ditempatnya, di atas meja bar, tidak tersentuh. Sementara pandangannya terpaku pada ikan – ikan yang sedang berenang di dalam akuarium di belakang bar tersebut. Ikan – ikan beraneka warna berenang kian kemari di dalam cairan berwarna biru safir. Gelembung air dan ayunan ganggang hijau di dalam akuarium membawa pria tersebut jauh ke dalam lamunannya. “Andai hidup bisa seindah itu”, bisiknya pada diri sendiri.

Pria itu adalah seorang eksekutif muda yang sukses. Umurnya baru sekitar 29 tahun dan ia telah memiliki berbagai hal yang diinginkan oleh manusia lain. Uang bukanlah sebuah masalah baginya. Hidupnya setiap hari dipenuhi dengan kesibukan. Rapat, pertemuan dengan klien, rapat kembali, demikian kesibukannya setiap hari. Waktu makan siang seringkali terlewati olehnya sementara sewaktu malam pun ia telah terlalu lelah untuk sekedar memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya. Makanan yang dikecapnya hanya terasa hambar di mulutnya akibat kelelahan sepanjang hari.

Ia sudah lelah dengan pekerjaannya, ia jenuh dengan hari – hari yang dilaluinya. Setiap hari ia harus menghadapi pekerjaan yang penuh tipu muslihat, bawahan yang terus menerus menjilat padaya, kecurangan – kecurangan yang tidak pernah diketahui oleh orang – orang, semuanya dengan dalih taktik bisnis. Ia sudah muak melihat berbagai orang yang bekerja di dalam politik dan pemerintahan, muka manis yang dipasang di depan koran dan majalah tetapi ketika bertemu lebih ganas daripada singa! Dalam dunianya hanya uang yang berbicara.

Apakah arti dari kebahagiaan? Diteguknya sekali gelas whisky di hadapannya. Cairan kuning keemasan mengalir melewati kerongkongannya. Malam membawa lamunan pria itu semakin jauh, jauh ke masa kecilnya dulu. Ia masih ingat hari – hari kelam yang dilaluinya. Ayahnya selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ibu selalu marah – marah setiap hari. Sedari kecil ia tidak mengerti mengapa manusia harus bersikap seperti itu. Mengapa manusia harus menyakiti sesamanya. Bukan sekali dua kali ia menerima hajaran dan pukulan, telah berulang kali diterimanya disertai dengan makian. Di rumah ia dianggap tidak lebih dari seekor anjing, tempat pelampiasan amarah, tempat melupakan jannah1. Manusia telah menjadi lebih rendah dari hewan baginya. Dunia tidak lebih dari tempat untuk menuai dendam dan amarah dalam hari – harinya.

Dengan gigih diselesaikannya masa sekolahnya. Prestasi terbaik di sekolah selalu didapatkannya tetapi tidak pernah sekalipun orang tuanya bangga akan hal tersebut. Guru – guru dan teman – teman selalu mengenalnya sebagai anak yang baik, sopan, dan rajin. Dengan prestasi yang gemilang, beasiswa di universitas terbaik pun diterimanya. Ia pergi dari kota kelahirannya tanpa berkata apa – apa pada orang tuanya. Pergi meninggalkan rumah yang telah dianggapnya tidak lebih tinggi dari kandang hewan.

Meski sibuk oleh kuliah yang dijalani, tetap juga ia aktif dalam berbagai kegiatan. Kerja sampingan pun dilakoni di luar jam kuliahnya. Hanya dalam waktu tiga setengah tahun diselesaikannya kuliahnya dengan predikat cum laude. Berbagai tawaran pekerjaan dari perusahaan besar pun berdatangan pada dirinya bagaikan tawon mengelilingi bunga.

Detik demi detik dilaluinya, tetapi mimpinya setiap malam tidak pernah berubah. Ketakutan,deraan, dan hinaan yang diterimanya semasa kecil telah menjadi hantu dalam mimpinya. Tidak jarang ia berusaha melupakan semuanya itu dengan sedikit alkohol. Alkohol yang memabukkan, membawanya jauh ke alam mimpi, mimpi yang lebih gelap dan kelam, yang tidak dapat dibangunkan selain oleh sinar hangat sang surya.

Telah 11 tahun berlalu sejak terakhir kali ia melihat wajah kedua orang tuanya. Tidak pernah sekalipun dihubunginya kedua orang tuanya itu sejak Ia meninggalkan mereka. Bagaikan daun yang diterbangkan oleh angin, demikian Ia telah dilupakan – dan melupakan – orang tuanya.

Lamunannya kembali ke masa kini. Ditenggaknya sisa whisky di gelasnya. Semuanya terasa begitu hampa bagi dirinya. Cahaya yang terbias dari gelas dan sisa es di dalamnya membentuk berbagai warna yang indah. Diiringi gerakan ikan aneka warna yang berenang kian kemari di dalam akuarium, di tengah ganggang yang berayun dan gelembung air, Malampun semakin larut. Cahaya lampu ruangan yang temaram, menemani ribuan cahaya lain dari jutaan ruangan di kota itu. Membentuk suatu lautan bintang dari sebuah kota metropolitan, kota yang terbentuk dari mimpi dan keserakahan manusia. Keindahan palsu yang menutupi kekejian dan kejahatan manusia, bersatu dalam gemerlapan lampu – lampu kota aneka warna.

1jannah, bahasa arab جنّة, artinya surga.

Apart02


2 Comments

[Review] Chrono Trigger

Chrono Trigger

trigger-logo

Just finished this game. LOL. It’s a game from my childhood. I have already played this game for quiet a time, yet it’s the first time I do read the story. *laughing*. It’s funny though when I am playing this game before, I just press the ‘A’ button and skip all the story. I have been to lazy to read the story.  It’s causing me unable to understand the game’s story. Now I am following the story, I found out this game do have a great story and maybe remarked as one of the greatest RPG Game. *two thumbs up*

At the ending scene, where the credit for the game shown up, I am surprised by the name of Akira Toriyama (The maker of legendary comic : Dragon Ball) shown up. Well, even though I have been playing “Chrono Trigger” for quiet a time since my child hood and have a feeling that the “Chrono character” do have some similarities with “Son Goku” from Dragon Ball, I’ve never pay any attetion to the credit though. LOL. I’m taking my hat off for Akira Toriyama and his work’s life.

The hero of this game is named Chrono. Looks like he got his name from the word “Chronology”. Since it’s a story about time, to found out the flow of event from time to time. How they change the flow of event in some way and change the chronology of the history.

This game telling a story about a boy named Chrono doing some adventure through time with his companion to save the world. There is an entity, the earth, the gaia, the universe itself, that arranging all these things to happen, to save itself. The entity helping Chrono and his companion in the journey through the time. The power of people, the time itself, and themselves help them through all the things that they should face.

Chrono and his companion traveled through the time from prehistory age (65.000.000 BC) until the future (2.300 AD) and future of the future (the end of time). They meet a lot of people and learn a lot of thing. Create an unbreakable bond between him and his companion. Yet, every meeting should face the ending. At the end of the story, even though they have face a lot of thing together, they should go their separate way. The entity has helped them to met, they have fulfilled their destiny, the time wil flow in it’s normal way once again. The time gate will never be opened again since the entity will rest now, thus they should say good bye each other.

Viva Square Soft (Square Enix now) for creating this great RPG!

Rating : 9.5/10

The End

Trivia : Akira Toriyama’s handwork do make Chrono looks a lot like Son Goku from Dragon Ball

059dd_chrono_trigger


Leave a comment

[Cerpen] Langit Malam

Langit Malam


Lonely_night_poem

Tanggal 11 April, musim panas, meski angin berhembus tetapi hari terasa begitu panas. Bulan purnama bersinar di langit yang cerah, tanpa awan. Beberapa bintang terlihat saling menyapa satu sama lain, saling bertukar salam di kejauhan. Aku duduk di bawah sebuah pohon memandangi keindahan langit malam itu. Tanganku memainkan kaleng bir yang masih berisi lebih dari separuh. Keindahan langit malam itu membuatku tersenyum, terkenang akan masa lalu.

Aku masih ingat masa kecilku dulu. Saat aku berumur 7 tahun, aku sedang bermain bola di dalam ruangan. Ibuku berkali – kali mengingatkanku untuk tidak bermain bola di dalam ruangan karena takut aku akan memecahkan sesuatu. “Prang..” Benar saja, bola yang kutendang mengenai vas bunga yang berada di atas meja. Akupun segera berlari dari ruangan itu sambil tertawa sementara ibuku dengan muka gelisah segera membersihkan pecahan vas tersebut. Aku hanya tertawa dan berlari meninggalkan ruangan tersebut.

Aku memang anak yang nakal, aku sangat dimanja oleh orang tuaku. Orang tuaku tidak pernah memarahiku sekalipun. Prestasiku di sekolah cukup baik, meski seringkali aku melakukan kenakalan di dalam sekolah tetapi guru – guru tidak berkata apa – apa. Semuanya semata – mata karena aku adalah anak yang pintar. Aku selalu melakukan semuanya sesuai dengan apa yang kuinginkan. Apapun yang kulakukan, orang – orang di sekitarku akan selalu memujiku. Meski aku melakukan kenakalan, tidak ada seorangpun yang akan memarahiku.

Waktuku terus berjalan, lamunanku membawa diriku ke masa – masa sekolahku dulu. Kenangan – kenangan manis masa smp dan sma. Saat pertama sekali jatuh cinta. Kuliah, aku diterima di sebuah perguruan tinggi swasta ternama, jauh dari orang tuaku. Kerjaanku setiap hari hanyalah berjalan – jalan dengan teman – temanku. Setiap malam aku menghabiskan waktu di dalam gemerlapan kota, kebut – kebutan di jalan raya, tertawa, dan menghabiskan masa mudaku.

Pada tahun terakhir kuliahku hidupku berubah. Aku mendapat kabar buruk, ibu meninggal akibat sakit. Telah sejak lama ibu mengidap penyakit kanker. Ibu selalu menahan rasa sakitnya sendiri, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa penyakit ibu telah begitu parah. Ayah mengalami depresi akibat kematian ibu. Krisis ekonomi yang tidak menentu dan tipu muslihat dari lawan bisnis ayah telah membawa perusahaan ayah ke dalam kebangkrutan. Ayah memutuskan untuk bunuh diri karena tidak tahan menghadapi malu dan tekanan hidup. Rumah dan harta keluarga disita untuk melunasi hutang perusahaan. Untung saja aku masih dapat menyelesaikan tahun terakhirku dengan baik dengan sedikit tabungan yang kumiliki.

Seusai kuliah aku bekerja sebagai seorang pegawai biasa dengan gaji pas – pasan. Teman – temanku mulai meninggalkanku. Semuanya sibuk dalam dunianya masing – masing. Aku menyesal aku tidak melakukan semuanya dengan lebih baik. Aku menyesal telah membuang waktuku dengan sia – sia. Aku hanya dapat berandai – andai, andaikan dulu aku belajar dengan lebih baik, andaikan dulu aku bersikap lebih serius, andaikan aku seperti ini, andaikan aku seperti itu. Aku menyadari semuanya telah terlambat bagiku. Kesempatanku telah habis, aku telah membuang – buang masa mudaku.

Baru 2 hari sejak aku dipecat dari pekerjaanku. Krisis global dijadikan sebagai alasan untuk memberhentikan ratusan pegawai yang membutuhkan penopang hidup. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku tidak memiliki orang tua tempat aku bisa sekedar menumpang hidup sementara. Aku tidak memiliki teman tempat aku bisa mencari bantuan.

Untuk kesekian kalinya kuteguk minuman yang ada ditanganku. Kugoyangkan kaleng tersebut untuk mengecek isi di dalamnya. Tidak ada suara, menandakan isinya telah kuminum habis. Aku pun berdiri dan meninggalkan kaleng tersebut di tempat aku duduk. Aku melangkah menjauh, meninggalkan kaleng kosong tersebut. Kaleng itu tetap di tempat itu, sendiri, terlupakan, tanpa dikenang.

night-sky-over-church-8002


3 Comments

[Cerpen] Cappucino

Cappucino


Rain Walking 07

Aku berharap aku dapat bertemu lagi dengannya… suatu hari nanti…

Sore itu aku sedang berada di sebuah kafe. Aku duduk di sudut ruangan sambil menghirup secangkir kopi cappuccino hangat. Bau cappuccino yang lembut memenuhi udara di sekitarku. Udara hari itu memang dingin, musim hujan, pertengahan desember. Sebentar lagi natal, orang – orang sibuk berlari kian kemari di tengah rintik – rintik hujan tanpa mempedulikan titik – titik air yang menimpa mereka. Kendaraan tetap berseliweran di jalan raya menerpa dinginnya hujan, sesekali kudengar bunyi klakson dari kendaraan di kejauhan.

Aku memandang pada laptop yang terbuka di hadapanku. Sambil sesekali menghirup aroma kopi cappucino dari cangkir, aku memandang ke arah jalan raya dari jendela kafe. Rintik – rintik hujan membasahi kaca dihadapanku, sesekali membuat embun di kaca yang segera menghilang oleh kehangatan ruangan. Semuanya itu membawa lamunanku jauh ke masa lalu.

Aku masih ingat masa – masa sekolahku dulu. Hari pertama aku bertemu dengan dirinya. Seakan tidak percaya pada apa yang kulihat, aku tidak dapat melepaskan pandanganku darinya. Sejak hari itu aku tidak dapat berhenti memikirkannya. Malamku dipenuhi oleh kegelisahan. Tidurku ditemani oleh mimpi akan dirinya. Aku selalu tidak sabar menunggu pagi untuk segera bertemu dengannya.

Setiap melihat dirinya aku selalu merasa resah, gelisah akan hal yang tidak kumengerti. Aku berusaha untuk mencari tahu tentang dirinya, hanya untuk menemukan bahwa dia adalah seorang yang pintar, cantik, kaya, dipuja banyak orang, satu kata : sempurna. Semuanya itu menghancurkan diriku karena aku hanyalah seorang yang payah, lemah, miskin, bodoh, pecundang. Aku hanya merupakan bahan olok – olok di kelasku. Apakah semua ini hanya akan menjadi mimpi indah sesaat bagiku?

Tidak! Aku bertekad untuk tidak menyerah. Aku harus berubah, untuk dirinya, untuk diriku sendiri. Aku pun berusaha mati – matian. Aku berusaha seakan – akan hari esok tidak akan ada lagi. Aku belajar, merubah penampilan, dan merubah diriku untuk menjadi seseorang yang lebih baik, seseorang yang lebih pantas bagi dirinya. Akan tetapi waktu berkata lain, waktuku tidak cukup. Aku harus pergi meski aku belum sempurna. Aku harus berhenti meski aku belum mencapai tujuanku. Aku hanya dapat melihat dirinya dari jauh, terakhir sebelum aku pergi. Aku hanya dapat bungkam tanpa dapat berkata apa – apa. Menangis di dalam hatiku, tanpa ada seorang pun yang tahu.

Beberapa tahun telah berlalu semenjak saat itu. Aku sudah menjadi jauh lebih baik saat ini meski masih jauh dari sempurna. Akan tetapi semuanya sudah menjadi percuma, aku sudah tidak dapat bertemu dengan dirinya. Aku sudah tidak pernah bertemu dengan dirinya. Bunyi pintu berdenyit menyadarkanku dari lamunan. Seorang wanita yang terlihat seperti dirinya memasuki ruangan. Aku tersentak dari lamunanku. Kuperhatikan wanita yang baru masuk itu dengan seksama. Aku pun tersenyum, wanita itu bukanlah dia. Tidak mungkin dia, dia telah jauh disana, di tempat yang tidak pernah kuketahui.

Aku kembali melemparkan pandanganku ke arah orang – orang yang sibuk di jalan. Kendaraan berlalu lalang tanpa henti. Berbagai ragam warna payung menghiasi jalan hari itu, di tengah hujan yang turun semakin deras. Aku mengambil cangkir kopi dari samping laptopku dan menghirup isinya. Aroma kopi cappucino memenuhi relung hidungku dan menenangkan pikiranku. Tidak berapa lama jari – jariku pun kembali bermain di atas laptop-ku, melanjutkan cerita pendek yang sedang kubuat.

Rain Walking 05


Leave a comment

[Spoiler] Agatha Christie – The Man in the Brown Suit

The Man in the Brown Suit

9780312979485

date published : 22 August 1924

author : Agatha Christie

mystery : 9.2/10

romance : 5.6/10

action : 7.2/10

thrill : 6.7/10

overall : 8.6/10

Ini adalah sebuah novel misteri karangan Agatha Christie. Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang wanita muda bernama Anne Beddingfield dan seorang tokoh politik bernama Sir Eustache Pedler. Anda akan mengikuti jalan cerita melalui sudut pandang kedua orang ini.

Anne Beddingfield

Anne Beddingfield adalah seorang wanita dengan jiwa petualang yang tinggi. Ia adalah tokoh utama wanita dalam cerita ini. Ia suka untuk mencari tahu hal – hal yang membuatnya penasaran dan tidak kenal takut akan apapun. Ia adalah anak dari seorang profesor ternama dalam bidang arkeologi. Petualangan Anne dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Ayahnya tidak meninggalkan apapun padanya kecuali 87 Poundsterling karena harta ayahnya telah habis digunakan untuk membayar hutang. Meskipun Anne hidup dalam ketidakpastian sepeninggal ayahnya, Ia tidak gentar. Anne malah merasa bersemangat karena ini adalah kebebasan yang telah lama diimpikannya.

Anne digambarkan sebagai seorang gadis muda yang cantik dan sikapnya yang penuh semangat dan tak kenal takut membuat beberapa tokoh pria dalam novel ini jatuh cinta pada dirinya. Di akhir cerita ia malah jatuh cinta pada pria yang pertama sekali dianggap sebagai pembunuh olehnya, yaitu sang tokoh utama pria, pria bersetelan coklat.

Sir Eustache Pedler

Sir Eustache Pedler adalah seorang tokoh politik yang memiliki cukup pengaruh di dalam cerita ini. Di dalam novel ini Ia diceritakan sebagai seorang yang jenaka dan tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan serius. Ia adalah seseorang yang mencari kenyamanan dan ketenangan dalam hidupnya dibandingkan dengan kekayaan dan kemasyhuran. Dalam novel ini, Sir Eustache Pedler dikisahkan sedang membuat sebuah buku harian yang hendak dipublikasikannya. Buku tersebut merupakan biografi mengenai dirinya dan orang – orang yang pernah ditemuinya. Anda mengikuti cerita ini melalui cerita yang ditulisnya di dalam buku tersebut.

Pada akhir cerita, Sir Eustache Pedler akan diketahui sebagai tokoh antagonis. Sir Eustache Pedler ternyata adalah “sang kolonel”, antagonis utama di dalam cerita. Ia adalah seorang brilian, otak utama dalam banyak kejahatan yang terjadi di masa itu, seperti : peperangan, penjualan ilegal, dan sebagainya.

Meskipun ia adalah tokoh antagonis dalam cerita ini, tetapi ia adalah tokoh kesukaanku dalam novel karangan Agatha Christie ini. Saya berhasil mengetahui keanehan dalam cerita ketika menyadari cara pembawaan cerita yang dilakukan oleh Agatha Christie melalui 2 sudut pandang. Saya mulai bertanya – tanya pada pertengahan cerita, mengapa harus melalui sudut pandang 2 orang ini? Pastilah salah satunya hanya bermaksud untuk mengelabui pembaca, untuk seakan – akan membenarkan cerita dari tokoh yang satu lagi tetapi sebenarnya adalah palsu. Bermula dari sana aku mulai mencurigai Sir Eustache Pedler sebagai tokoh antagonis utama dalam cerita ini, yakni Sang Kolonel!

Trivia : di dalam cerita ini ada disebutkan nama Sherlock Holmes.