Will today be raining?

a tale of rain drop

Mangkus dan Sangkil

Leave a comment

Mangkus dan sangkil barangkali adalah 2 kata yang paling tidak populer dalam bahasa indonesia, mengapa? karena mereka seringkali digantikan oleh saudara sepupu mereka yang merupakan keturunan campuran, memang orang indonesia lebih suka yang bau bule daripada yang lokal!

Mangkus dan sangkil merupakan kosakata baku untuk kata “effective and efficient”. Yah, tapi apa daya, mereka kalah dengan saudara sepupu mereka yakni “efektif dan efisien” yang merupakan serapan langsung dari bahasa inggris untuk arti yang sama. Saya sendiri? lebih sering dan sangat sering bahkan menggunakan kata efektif dan efisien, daripada mangkus dan sangkil – dan membuat orang yang baca beli kbbi (kamus besar bahasa inodnesia) untuk mencari arti 2 kata tersebut!

Tapi di tulisan kali ini saya tidak ingin membahas mengenai asal kata mangkus dan sangkil tersebut, saya justru ingin berbagi pikiran mengenai kemangkusan dan kesangkilan yang sering kali kita temui dalam budaya organisasi kita.

Untuk memudahkan Anda mencerna tulisan saya, saya akan menggunakan kata “efektif dan efisien” daripada “mangkus dan sangkil” dan Anda sakit kepala untuk mengetahui maksud dari tulisan saya.

Ketika kita bicara mengenai aturan, kita berfokus pada efisiensi daripada efektivitas dari aturan itu sendiri. Lebih parah lagi, ketika kita mencari jalan pintas dengan memakai kata “best practice” tanpa memahami apa sebenarnya arti dari best practice itu.

Ambillah gambaran sebagai berikut, Anda diminta untuk membuat aturan mengenai pengaturan keamanan ruangan.

Best practice untuk pengamanan ruangan adalah:

Ruangan harus dijaga dengan 2 pembatas perimeter, perimeter luar (pagar) dan perimeter dalam (pintu dan aksesnya). Pengamanan akses terhadap pintu untuk teknologi termutakhir saat ini adalah menggunakan otentikasi biometrics (e.g., retina mata, sidik jari, etc). Dinding pelindung untuk ruangan yang dilindungi haruslah memiliki ketebalan minimum tertentu untuk kekokohan dan perlindungan dari isi ruangan, dilapisi oleh cat anti bocor, terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar, dilengkapi oleh sistem pemadam kebakaran (diutamakan jika bahan pemadam kebakaran bukan terbuat dari cairan (untuk melindungi kerusakan pada media kertas) dan dari bahan yang tidak bersifat konduktor (menghindari kerusakan pada peralatan elektronik)), dijaga oleh security, dilengkapi dengan buku tamu dan cctv untuk mengetahui siapa saja yang keluar masuk, dan hasil rekaman cctv harus direview secara berkala untuk memastikan tidak terjadi akses oleh pihak yang tidak berwenang.

Pertanyaan saya adalah: apakah seluruh tempat harus menerapkan “best practice” tersebut?

Apakah gudang peralatan kantor, yang berisi pena, kertas, dan berbagai peralatan lain yang mungkin bernilai kurang dari 50 juta harus dilengkapi dengan pengamanan seperti di atas?

Maka sebenarnya saya paling tidak suka ketika ada orang yang berkata pada saya, itu kan “best practice”-nya, padahal dia sendiri tidak mengetahui apa itu “best practice” dan apa prinsip di balik “best practice” tersebut.

“Miris”, tapi ini lah yang terjadi dalam budaya ber-organisasi kita. Seringkali kita mencari jalan pintas, membuat aturan dengan mencontek “best practice” orang lain, tanpa mengetahui mengapa orang lain membuat “best practice” itu. Padahal, orang-orang yang membuat “best practice” itu mengetahui dengan jelas:

Best Practice is Best Practiced

Tidak ada panacea (obat dewa)! Setiap organisasi itu berbeda, demikian juga setiap orang. Tidak ada satu cara yang dapat memenuhi kebutuhan semua orang, tidak ada satu sistem yang dapat memuaskan seluruh organisasi, dan tidak ada satu metode yang pasti membuat Anda menjadi kaya dengan cepat!

Yang ada hanyalah prinsip. Prinsip itulah yang mengatur hal-hal yang ada, dan prinsip itu yang memastikan apakah Anda telah bekerja dengan efektif atau tidak. Efisien adalah bagaimana Anda menjalankan prinsip itu. Sayangnya, seringkali kita membuat aturan yang tidak efektif namun mengharapkan aturan tersebut dijalankan dengan efisien.

Yang terjadi? saya rasa saya tidak perlu menjawab hal tersebut, karena Anda pasti sudah sering merasakan dampaknya…

Tapi kalau sulit, bayangkan saja kalau perusahaan Anda menerapkan “best practice” di atas untuk seluruh ruangan bahkan untuk toilet, dan Anda sedang sakit perut dan ingin ke toilet tapi tetap harus mengisi buku tamu terlebih dahulu!

Author: Rain Drop

I keep walking the paveway Look up to the gray sky A drop of rain fall on my nose Will today be raining?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s