Will today be raining?

a tale of rain drop

Kopi dan Hujan

Leave a comment

Seorang pria sedang duduk sambil membaca koran di sebuah cafe. Secangkir kopi tersaji di atas meja yang berada di hadapannya. Pagi itu hujan turun dengan rintik-rintik, mungkin itu sebabnya kafe itu begitu sepi. Yah, memang di hari biasa pun tidak pernah begitu ramai, tapi hari ini jauh lebih sepi. Hanya ada 1 atau 2 orang lain di kafe itu, dan masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.

Pelayan kafe terlihat sedang membersihkan beberapa peralatan di belakang konter, tidak terlalu mempedulikan para pengunjung yang sedang sibuk dengan dirinya sendiri.

“Kriet…”

Pintu depan kafe terbuka. Terlihat sesosok pria memasuki kafe sambil menurunkan payung yang basah akibat hujan rintik-rintik di luar, rupaya hujannya sedikit lebih deras dari sebelumnya. Pria itu tersenyum, sambil menutup payungnya dan merapikan jaketnya, ia berkata pada sang pelayan, “Yang biasa ya”.

Hanya dijawab dengan anggukan kecil dari sang pelayan. Memang pria itu sudah biasa memesan coffee latte di kafe itu. Pria itu berjalan menuju meja tempat pria pertama yang masih sibuk membaca koran, kopi di depannya masih mengepulkan asap panas, belum disentuh daritadi.

Ditariknya kursi yang ada di hadapan pria yang sedang membaca koran itu, digantungnya payung yang masih menitikkan air-air hujan, “Sudah lama disini?” tanyanya.

“Belum terlalu” jawab pria itu sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari koran di hadapannya.

“Sudah lama tidak hujan, akhirnya pagi ini hujan juga. Lumayanlah, mendinginkan suasana sedikit.”

“Yah, lumayan memang, untuk kita, tapi tidak untuk mereka yang sedang berlari-larian di luar itu. Dunia tidak pernah adilkan?” Ucapnya sambil tersenyum dan masih sibuk membaca koran yang dipegangnya, bukan untuk melawan perkataan si pria tersebut, tapi memang mereka sudah terbiasa melakukan diskusi antar sahabat tentang berbagai hal. Sudah terbiasa untuk memberikan pandangan yang sedikit berbeda supaya pembicaraan dapat mengalir.

“Memang adil itu apa? Barangkali kita saja yang terlalu mengagungkan konsep keadilan?”

“Menurutmu?” tanya pria itu sambil mengangkat alis, diturunkannya koran yang sedang dibacanya ke samping sambil memandang lawan bicaranya. Sebelah tangannya mendekati cangkir kopi yang belum disentuhnya daritadi. Diangkatnya dan diseruputnya sedikit.

“Menurutku sih, adil dan tak adil itu hanya perspektif yang kita ciptakan sendiri. Pada kenyataannya semua orang akan berkata tidak adil ketika mereka melihat orang lain lebih baik dari dirinya.”

“Mungkin mudah bagi kita untuk berkata seperti itu ketika kita hidup dengan lebih baik dari orang kebanyakan kan? Tapi saat kita yang berada dalam keadaan kurang beruntung, jika kita hendak tidak berkata ‘tidak adil’, lantas kita harus menyebutnya apa?”

Pria itu bersandar sejenak, satu kakinya dinaikkan ke pangkuan kaki lainnya, tangannya bermain melingkar ke belakang kursinya, sambil menengadah ke langit-langit kafe, ia terlihat berpikir, “Hm.. Nasib?”

“Siapa yang menentukan nasib?”

“Pada awalnya Tuhan dan pada akhirnya setiap perbuatan kita.”

“Dan… jika kita sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap nasib kita tidak berubah? Sementara ada orang yang tidak melakukan apapun tetapi nasibnya bisa begitu baik?”

“Yah.. tidak adil memang ya. Jadi kita menyalahkan nasib? atau lebih parah, kita menyalahkan Tuhan?”

“Bukankah itu yang disalahkan oleh orang-orang ketika mereka berkata ‘tidak adil’ ? Meski mungkin mereka bermaksud menyalahkan orang lain, menyalahkan atasan mereka, atau pemerintah, atau bahkan peraturan-peraturan yang tertulis? Pada akhirnya kita menyalahkan Tuhan kan? Sebagai yang menentukan nasib seseorang?”

“Tapi kan kita selalu bilang Tuhan Maha Adil? Kok kita jadi bilang dia tidak adil? Hehe..”

“Tok” – secangkir coffee latte diletakkan di meja oleh pelayan kafe itu.

“Terima kasih” kata pria itu yang dijawab oleh sekulum senyuman dari pelayan itu yang kemudian melenggang pergi kembali ke balik konter. Diaduknya coffee latte dan dihirupnya aromanya yang wangi, namun masih terasa sangat panas dari uapnya. Tidak jadi diminumnya, ditaruhnya kembali coffee latte itu di meja. “Gimana menurutmu?” sambungnya.

“Yah.. barangkali yang kita maksud dengan adil itu berbeda dengan yang Tuhan maksud?”

“Jadi.. seharusnya adil itu apa?”

“Menurut mu adil itu apa?”

“Adil itu.. sama rata, apa yang kita tabur itu yang kita tuai?”

“Berarti menurutmu, jika kita menabur 100 benih apel, kita juga harus mendapatkan hasil yang 100 pohon apel?”

“yah.. ga sampai sama persis juga sih.. cuma kalau kita nabur benih apel, setidaknya kita dapat pohon apel.”

“Barangkali adil buat Tuhan itu ya cuma segitu?”

“Kok kayaknya kurang adil juga ya? hehe.”

“Ya, atau kita yang barangkali terlalu tamak. Kita hidup bukan untuk mencari keadilankan? Menurutmu kita hidup untuk mencari apa?”

“Itu pertanyaan sulit.. bahagia bukan?”

“Nah itu jawaban yang lebih sulit lagi.. Bahagia itu apa? Tiap orang bisa beda-beda rasanya. versimu apa?”

“Bahagiaku buat ku sederhana, aku cuma ingin tinggal di tempat tenang dengan orang yang aku sayang dan sayang aku. Ngelihat orang-orang yang aku sayangi senang, aku sudah cukup bahagia. hidup damai, aman, dan tenteram. Kalau kamu?”

“Buatku bahagia saat aku bisa mencapai tujuan hidupku. Kamu tahu keinginanku kan? Aku ingin membantu orang-orang yang berkekurangan, mereka yang seringkali ditindas dan merasa bahwa dunia ini tidak adil sama mereka, karena mereka sudah nabur benih apel tapi dapatnya cuma pohon berdaun tanpa buah.”

“Pada akhirnya kita akan bahagia saat kita memberikan kebahagiaan buat orang lain? Setuju ga?”

“Buatku dan kamu mungkin iya, tapi ada beberapa orang lain ga kan? Ada lho orang-orang yang justru bahagia melihat orang lain menderita.”

“Ya, tapi biasanya mereka begitu karena sudah pernah disakiti?”

“Apakah itu jadi alasan untuk kita menyakiti orang lain?

“Ga sih memang..”

“Jadi karena kita merasa tidak adil, kita juga berlaku tidak adil pada orang lain, supaya adil. Begitukan ya akhirnya?”

“Begitulah, makanya, barangkali memang kita saja yang terlalu mengagungkan konsep keadilan itu, atau seperti katamu, adil nya kita sama Tuhan beda.”

“Hm…”

keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing, sambil menyeruput kopi di cangkir masing-masing. Hujan di luar semakin deras namun aroma kopi di kafe itu semakin semerbak. Beberapa orang memasuki kafe itu dan mengambil tempat duduk agak di pojokan, beberapa anak muda yang saling tertawa dan bercanda. Mereka membawa tas yang sepertinya berisi buku-buku cukup berat. Anak kuliah dari universitas di dekat sini sepertinya.

Pelayan kafe itu memutar musik jazz lembut, menemani hujan di pagi itu. suasananya begitu asik.

“Aku lapar, kamu mau pesan makan?”

“Omellete kayaknya enak nih.”

“OK, Tom, pesan makan ya, omellete satu dan pancake dengan bacon 1.”

“Siap bos” Ucap pelayan itu dari balik konter.

“So.. kamu hari ini ga kemana-mana Jos?” Ucap pria yang membaca koran di awal tersebut.

“Ga sih, lagi suntuk. Lu Jo?” Kata Josh pada John.

“Masih belum memutuskan..” Ucap John sambil menghela nafas panjang.

“Kenapa? Lagi banyak masalah?” Tanya Josh

“Biasa.. masalah kerjaan.” Ucap John singkat

“Masih di tempat yang sama?”

“Sayangnya masih..”

“Berapa lama lagi?”

“Pengennya sih ga lama-lama”

“Yah.. nasib orang pintar kan, dikejar kemana-mana.”

“Masalahnya.. ga sesuai dengan panggilan hati Jos, I might be good on what I do, but It does not mean I like it.”

“Terus rencana mu gimana?”

“Aku sudah ada rencana sih.. Aku mau ngejar financial freedom dulu. Cuma.. masih butuh waktu sepertinya.”

“Aku ga bisa bantu banyak sih, aku juga berusaha mengejar impianku kan.”

Mereka berdua terdiam kembali. Josh terlihat sedang melamun melihat ke luar jendela, melihat orang-orang yang berlari-lari dengan beraneka ragam payung dan jas hujan. John mengambil koran di sampingnya dan melanjutkan membaca.

“Kamu masih sama (pasanganmu) yang dulu?” Tanya John

“Ngga, baru putus.”

“oh.. kenapa?” Jawaban itu menarik perhatian John yang menurunkan korannya sedikit untuk melihat raut wajah sahabatnya itu. Josh terlihat berusaha kuat namun tak bisa menutupi kesedihan di wajahnya. Masih tetap memandang keluar jendela dia menjawab, “Yah.. dia ketemu yang lebih baik.”

“Mungkin belum jodoh, nanti akan ketemu yang lebih baik.” Jawab John santai, jawaban klise, tapi hanya itu yang bisa dia berikan karena dia kenal Josh dengan baik, tak suka dikasihani apalagi di-kepo-in. Dia kembali membaca beberapa headline berita yang menarik di koran itu.

“Ada cewe lain yang lagi deket?” Tanya John lagi

“Ada, tapi hatiku belum siap kayaknya.”

“Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru.”

“Ya, aku tahu.. makanya aku butuh teman, supaya ga gila kalau lagi sendiri.”

“Ada aku toh, hubungi saja kalau lagi butuh teman ngobrol Jos.”

“Siap, pasti.”

Tom, si pelayan, datang dengan membawa pesanan mereka berdua: “Omelet dan Pancake?”

“Yup” ucap mereka hampir berbarengan

Tom menaruh pesanan mereka di atas meja, “Bon Appetite”

“Merci”

Josh langsung mengambil sesendok omelette dan memakannya, sementara John melingkari pancakenya dengan sirup maple.

“Jadi.. kembali ke obrolan tadi. Apa itu keadilan?” Tanya Josh membuka pembicaraan kembali

“Sulit.. tapi kalau ingin bermain sedikit filosofi, sebenarnya kita tidak dilahirkan secara adilkan? Kelahiran kita namanya nasib, dan nasib kita ditentukan oleh Tuhan. Sehingga sebenarnya Tuhan tidak adil pada hidup kita, atau.. sebenarnya Dia adil, karena Dia melihat apa yang dilakukan oleh orang tua kita, dan karena orang tua kita juga berusaha untuk kita, maka kita mendapat hasil kerja keras orang tua kita, jadi secara keseluruhan Tuhan itu adil tapi secara satuan Tuhan tidak adil.”

“Pemikiran yang menarik..”

John melanjutkan, “Nah, kita sebenarnya merasa, meski mungkin tidak mau mengakui, bahwa Tuhan tidak adil kepada kita secara individu. Maka kita mengambil alih keadilan yang diberikan oleh Tuhan itu. Kita merancang sistem sedemikian rupa sehingga secara individu kita juga memiliki kesempatan untuk berusaha mendapatkan kebahagiaan.”

“Hidup, Merdeka, dan berhak memiliki kesempatan mengejar kebahagiaan, Huh?”

“Ya.. tapi bahagia atau ngga bahagia kan kembali ke orangnya lagi. Bahagia juga bisa berbeda antar orang. hehe..” Ucap John sambil tertawa kecil.

“Ya.. tapi apakah sistem itu menjamin kita bisa mendapatkan keadilan yang dimaksud? Pada kenyataannya kita hanya berusaha memberikan kesetaraan kan, bukan keadilan. Kita hanya bisa menaikkan batas bawah, bukan memastikan setiap orang dapat mencapai batas atas. Padahal orang-orang akan bahagia kalau mereka berhasil mencapai batas atas mereka masing-masing.” Ucap Josh

Josh melanjutkan lagi, “Jadi… memang yang aneh itu Tuhan kan? Dia menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita pada awalnya berada di batas bawah, atau bahkan mungkin berada di batas bawah nya ‘versi kita’ – tapi dia memberikan kita kekuatan dan kesempatan untuk berusaha sebaik-baiknya dengan bantuan dia supaya kita menjadi yang terbaik, atau mencapai batas atas. Dan seharusnya batas atas yang dimaksud juga batas atasnya ‘versi Tuhan’ dong ya?”

“Pemikiran yang menarik.. jadi sebenarnya Tuhan itu adil pada kita secara individu jika kita melihat keseluruhan hidup kita, dan Tuhan itu juga adil jika kita melihat umat manusia secara keseluruhan? Tapi jadi ga adil kalau kita hanya melihat sepotong-sepotong saja. Begitu kan maksudmu?” Kata John

“Ya kurang lebih begitu.” Ucap Josh

“Setuju sih..” Kata John kembali

“Trang” suara sendok, garpu, dan pisau beradu dengan piring.

“Selesai nih, mayan kenyang juga. Nanti malam ada acara? Temenin aku minum yuk?” Ajak Josh

“Hayu aja, tempat biasa?” Tanya John

“OK” Kata Josh

“OK, ini aku yang bayar ya, ntar malam kamu. Tom, kutaruh disini ya, kembalian ambil aja buat tip.” Ucap John sedikit berteriak

“Thanks” Kata Tom, si pelayan kafe.

“Siap, yuk cabut dulu.” Kata Josh dan mereka berdua pun pergi meninggalkan kafe itu. Hujan sudah berhenti, dan orang-orang juga mulai ramai memenuhi jalanan. Burung-burung keluar untuk melihat dunia yang sudah berhenti menangis dan digantikan oleh cericipan mereka yang bahagia.

Author: Rain Drop

I keep walking the paveway Look up to the gray sky A drop of rain fall on my nose Will today be raining?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s