Will today be raining?

a tale of rain drop

Manusia Setengah Dewa

Leave a comment

Belakangan aku memperhatikan banyak orang-orang yang merasa dirinya adalah manusia setengah dewa. Manusia setengah dewa? Ya, fisiknya manusia, namun merasa kodratnya sama dengan dewa. Mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar, paling tahu, dan paling berhak untuk mengatur hidup orang lain. Mereka merasa bahwa dunia akan berhenti berputar tanpa mereka, mereka adalah orang yang paling penting dan satu-satunya di dunia ini.

Aku sendiri sebenarnya dari awal memilih untuk diam daripada menyahutkan kata-kata dari pengetahuanku yang masih awam terkait dengan hukum dan politik. Namun, jengah juga lama-lama rasanya mendengar orang-orang yang hanya ikut baris berbaris dengan gerombolan lainnya. Memaki dan menyalahkan orang-orang lain yang menyuarakan pendapat mereka, merendahkan pendapat orang lain yang berbeda, dan merasa bahwa hanya dirinya lah yang paling benar padahal barangkali mereka sendiri tak memahami arti di belakang semua antrian yang mereka ikuti itu. Mereka hanya mampu mencibir dan mengucapkan kata-kata pedas, kebanyakan dari belakang monitor pula, menyembunyikan identitas dan wajah mereka. (Ah, aku rasa aku pun seperti itu).

Tapi sebenarnya masalah apa sih yang sedang kubicarakan ini? Salah satu hal yang ingin kubahas disini adalah terkait dengan kontroversi surat Anggun terhadap masalah penghukuman mati terpidana kasus narkoba. Ya, memang banyak pro dan kontra terhadap masalah itu. Aku juga tak membela pihak manapun, baik yang berteriak untuk “dibunuh saja” maupun yang berteriak untuk “jangan dibunuh”.

Aku sendiri tak merasa berhak untuk mengambil nyawa manusia. Kematian tak pernah membawa kebaikan apapun. Tapi terlepas dari itu, aku menghormati proses hukum yang berjalan dan menerima apa pun hasil yang telah ditetapkan. Namun yang membuatku jengah adalah ketika orang-orang yang pro terhadap hal tersebut mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak bermoral dan tidak manusiawi seperti:

*sumber-sumber saya tampilkan karena orang-orang yang berbicara juga menuliskan pendapat mereka di forum terbuka tanpa batasan

1. Kenapa anda tidak yakin bahwa dengan hukuman mati kita justru bisa memberantas Narkoba dari akarnya? (dari kompasiana – ayu utami)

2. Mba Anggun… TKI kita di arab saudi pun dihukum mati tanpa pemberitahuan, kenapa mba tdk menulis surat terbuka jg utk pemerintah disana, ini narkoba lho mba. (dari Mercia Kinzelina)

3. Kali ini saya ngga setuju dg mbak Anggun. lebih baik satu orang pengedar mati daripada satu orang hidup tapi membunuh dan merusak banyak orang krn narkoba. lebih miris(dari mimin ica)

Barangkali memang benar jika memakai perhitungan ekonomi, lebih baik kehilangan satu rupiah daripada kehilangan seribu rupiah. Tapi apakah nyawa manusia dapat dihargai seperti itu? Apakah moral bangsa kita telah jatuh sedemikian rendahnya sehingga kita men-kuantifikasi-kan nyawa manusia, membeda-bedakan nyawa satu orang dengan yang lainnya seakan-akan kita bukan makhluk yang sama? Sedangkan Tuhan saja bersedia mengampuni seluruh manusia?

DAN, membunuh menyelesaikan masalah, kematian menyelesaikan segala masalah. Segala masalah yang ada akan menjadi tiada ketika kematian datang. Dunia ini akan menjadi tempat yang damai jika setiap perbuatan jahat, sekecil apapun langsung diberikan hukuman mati. Tanpa perlu waktu yang lama, dunia akan menjadi tempat yang aman dan tentram, damai bagai surga karena tidak ada 1 manusia pun yang tertinggal.

Saya pun setuju bahwa narkoba adalah sesuatu yang sangat merusak dan sama tingkatannya atau barangkali lebih parah dari kasus pembunuhan. Pasti banyak orang akan berteriak – teriak bahwa kita tak pernah menjadi korban dan barangkali menyumpahi orang-orang yang kontra untuk mengalami hal serupa supaya dapat berubah pendapat dan memiliki “perasaan dendam” yang sama terhadap para pelaku supaya mereka dihukum mati saja.

Namun, lagi-lagi pertanyaan saya kembali kepada moral bangsa kita, moral manusia kita. Apakah moral manusia kita secara kolektif telah jatuh sedemikian rendahnya? Bahwa kita berhak untuk mengelompok-ngelompokan orang berdasarkan perbuatannya, mana yang baik dan yang buruk, dan memutuskan nasib mereka?

Saya lebih setuju jika yang diperbaiki adalah sistemnya, penjaranya, moral sipir-sipirnya, supaya kebebasan mereka benar-benar terenggut. Supaya mereka tidak mendapatkan hak di dalam kehidupan sosial (dan tidak merugikan orang lain kembali), namun mendapatkan waktu untuk berdamai dengan dirinya dan Tuhannya. Jika Tuhan yang sedemikian suci saja mau mentolerir kesalahan kita yang sedemikian banyaknya dan memberikan waktu bagi kita untuk belajar dan berubah dalam setiap perjalanan hidup kita, apakah kita hingga mau melampaui Tuhan dan memutuskan berhak untuk mengambil nyawa manusia?

Jika proses hukum yang berjalan memang sudah memutuskan, saya yang pengecut ini pun berkata, “Ya sudah, saya ikuti saja proses hukumnya, saya hanya orang awam”. Tapi jika ada orang lain yang berusaha supaya pendapat mereka didengarkan, maka biarkanlah. Jika ingin berdebat, lakukan secara intelek, jangan dengan cara merendahkan orang lain dan meninggikan diri sendiri, seakan-akan dirimu yang paling tinggi dan paling benar.

mna mau dia mkirin itu ciban anggun tuh (balasan Deni Hermawan untuk Mercia Kinzelina)

Kepada Yth. Anggun C. Sasmi, Artis International yang mengaku berdarah Indonesia. Hai Mbak Anggun.. Perkenalkan nama saya Ayu Utami seorang pekerja biasa yg sejak lahir hingga detik ini keturunan, lahir & besar di Indonesia (kalimat pembuka Ayu Utami – kompasiana).

Berdebatlah sebagai orang-orang yang mau berpikir untuk kebaikan kita sebagai manusia bersama, bukan dengan ego, dengan perasaan sebagai manusia setengah dewa.

Author: Rain Drop

I keep walking the paveway Look up to the gray sky A drop of rain fall on my nose Will today be raining?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s