Will today be raining?

a tale of rain drop

Hal yang baik dan hal yang benar

Leave a comment

Sebenarnya aku sudah tergelitik untuk menulis hal ini sejak beberapa waktu lalu. Tapi karna kesibukan dan berbagai hal lain, barulah sekarang aku dapat menulisnya (kita sebut saja berbagai hal lain itu, rasa malas).

Beberapa waktu lalu aku baru saja menonton film PK, film india (film india? Iya, film india. Film india yang banyak joget-joget nya itu? Iye, yang itu, ga salah baca kok ente). Film PK ini dibuat oleh sutradara yang sama dengan 3 idiot, pemeran utamanya juga sama. Mungkin beberapa dari Anda pernah menonton film itu?

PK

Ah, tapi disini aku bukan ingin membahas isi dari film itu. Hanya saja, ada 1 adegan yang menarik perhatianku (eh, banyak adegan dink, ini salah satunya doang).

[Spoiler Alert]

Dalam cerita itu, si tokoh utama (PK) didatangi oleh seorang Bapak-bapak yang mengaku membutuhkan uang untuk pengobatan istrinya di rumah sakit, si PK langsung memberikan sejumlah uang pada si bapak. teman PK pun mengatakan bahwa PK baru saja ditipu dan si Bapak itu pasti menghabiskan uang nya untuk bersenang-senang. PK menjawab bahwa memang benar istri Bapak itu sehat walafiat, malah mereka sedang makan malam romantis untuk ulang tahun pernikahan mereka. Si Bapak itu terpaksa kemari karena ia kekurangan uang untuk membayar makan malam romantis tersebut, karena istrinya ingin memesan hidangan penutup tambahan dan ia ingin memberikan kenangan terindah untuk istrinya dengan tidak mau berkata tidak pada keinginan istrinya tersebut.

Aku cukup yakin hal yang sama suka terjadi dalam kehidupan kita. Kita seringkali juga suka menimbang-nimbang apakah harus memberikan “sumbangan” pada pengemis-pengemis di jalan itu? Yang terkadang kebanyakan miskin palsu? Beberapa malah diberitakan jauh lebih kaya daripada kita kebanyakan, memiliki rumah dan mobil, berpenghasilan belasan juta.

Atau terhadap anak-anak miskin yang meminta-minta di lampu merah. Banyak pemberitaan yang menyebutkan bahwa mereka dipaksa untuk melakukan hal tersebut oleh “oknum”. Oknum itu bisa orang lain bahkan orang tua mereka sendiri. Mereka dipaksa untuk tidak sekolah dan mengemis. Dipaksa untuk berlari-lari di siang hari yang panas dan jalan yang berbahaya, dengan kuda-kuda besi berlalu lalang.

Justifikasi untuk tak memenuhi permintaan mereka pun seringkali kita lakukan, dengan mengatakan bahwa memberi malah menghancurkan hidup mereka. Logis bukan? apalagi dengan fakta di atas. Belum lagi ditambah spanduk dari pemerintah yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang memberikan sumbangan pada mereka akan menerima denda atau bahkan sanksi kurungan penjara. Membuat kita semakin mantap memutuskan bahwa hal tersebut adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Ya, hal yang benar. Saya sejujurnya juga tak suka memberikan “uang” pada mereka. Apalagi jika orang yang meminta-minta itu adalah pemuda yang sehat dan kuat. Lantas, apakah berarti kita sudah pasti tak usah memberikan apa pun kepada mereka? Orang-orang yang meminta bantuan kepada kita, hanya karena kita tak bisa memutuskan, mana yang benar-benar membutuhkan pertolongan kita dan mana yang hanya membodoh-bodohi kita?

Aku pun tak bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

Namun, aku ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi terhadap hal tersebut.

Seringkali jika ada pengemis datang meminta-minta kepadaku, aku agak malas memberikan sumbangan kepada mereka, kecuali yang datang adalah anak-anak kecil*, kakek-kakek renta, atau nenek-nenek tua. Jika pengamen, aku pun ingin melihat usahanya untuk mendetingkan lagu sebisanya, tidak hanya berusaha supaya diberikan uang dan langsung pergi. Aku akan sangat menghargai yang setelah diberikan uang tetap tinggal dan menghibur kita. Apalagi yang suara atau petikan nadanya indah.

Tentunya kebanyakan dari kita pun melakukan hal ini bukan?

*Untuk anak-anak kecil itu, aku tahu bahwa sesungguhnya uang itu jarang sekali sampai pada mereka. Tapi, siapa yang akan menolong mereka?

Beberapa kali pula ada beberapa orang yang datang langsung kepadaku, dan menceritakan bahwa mereka memiliki masalah keuangan, dan meminta bantuan. Biasanya aku pun akan memberikan bantuan pada orang-orang macam ini (ada yang pernah kutolak juga).

Nah, disinilah dimana kebanyakan teman-temanku akan memandangku dengan pandangan aneh, namun memang belum ada 1 orang pun yang mengatakan terus terang padaku “Eh, lu kena tipu lho barusan. Dia emang sering di daerah sini kek gitu.”

Well, yes sir. You dont need to tell me that, i know it too.

Lantas, mengapa aku masih melakukan hal tersebut meski aku tahu aku sudah ditipu?

Ada beberapa pertimbangan, tentu saja sangat bergantung pada orang yang mana yang datang. Tapi marilah kuceritakan dahulu 1 pengalamanku yang paling berkesan.

Waktu itu jam 10 malam, aku sedang turun dari mobil untuk masuk ke dalam Gereja, memang ada kegiatan doa malam itu. Tiba-tiba seorang ibu-ibu dengan menggendong anak bayi dan 1 orang bocah kecil di sampingnya menghampiriku. Dengan suara bergetar, menahan tangis, dan takut-takut, dia mulai berbicara padaku, “Mas, boleh minta bantuan ga? Ibu mau beli makan untuk makan anak-anak, beras ibu habis dan mereka belum makan dari tadi.”

Aku waktu itu hampir terlambat untuk kegiatan gereja, tidak terlalu melihat ibu tersebut dan masih sibuk mengambil beberapa perlengkapan dari mobilku. Sambil berberes, aku berkata pada ibu itu, “Ibu butuh berapa?”

“10 ribu cukup mas, untuk beli beras”.

Di bagian bawah dashboard mobilku, kulihat ada beberapa uang kertas tercecer sejumlah 25 ribu. Langsung kuambil saja semua uang itu, dan ku ambil barang-barangku serta kukunci mobilku. aku menghadap ibu itu dan kutaruh uang itu di genggaman tangannya sambil berkata: “Bu, ini hanya sedikit, tapi semoga cukup ya.”

Karena hampir terlambat sebenarnya aku sudah ingin langsung pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam gereja. Tapi tanpa kusangka-sangka, si Ibu, dengan 1 tangannya lagi memelukku dan menangis sambil mengucapkan terima kasih berulangkali. Aku pun terdiam sejenak, dan kemudian aku pun hanya bisa menepuk punggung ibu itu sambil berkata “Iya bu, gapapa, itu berkat untuk ibu. Ibu pulang saja ya, beri makan untuk anak-anak dulu.”

Kemudian ibu itu pun pergi, dan aku masuk ke dalam Gereja untuk mengikuti kegiatan doaku. Sayangnya.. setelah hari itu, aku tak pernah bertemu ibu itu lagi.

Terkadang, ada orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan kita, dan jika tak terpaksa, mereka tak akan melakukan hal tersebut. Kita sendiri sangat sulit bukan untuk meminta tolong pada orang yang tak kita kenal? Merendahkan diri kita untuk berkata tolong aku?

Namun, memang terkadang ada juga orang-orang yang ingin menipu dan membodoh-bodohi kita. Bahkan barangkali banyak yang sudah terbiasa melakukan hal tersebut.

Seperti pengalamanku berikut:

Waktu itu ada seorang bapak-bapak membawa berbagai peralatan ibadah untuk dijual mendatangiku. Setelah dekat dia berkata:

“Mas, mas, boleh minta bantuan?” (Sambil tersenyum)

“Ada apa pak?”

“Begini mas, saya mau minta tolong, saya mau pulang kampung, tapi ga ada ongkos. saya sudah 2 minggu disini, saya mau telpon ke orang kampung juga tak punya pulsa.”

“Oh begitu mas? Tapi saya lagi ga bawa uang nih.” Jawabku dengan muka datar.

“Masa mas? Sedikit aja juga gapapa kok.”

“Iya beneran mas, lagi ga ada uang dikitpun, kutunjukkan kantong celanaku yang kosong (ya iyalah, duit gw di dompet belakang.”

“Sorry ya mas”. jawabku ketus dan aku langsung meninggalkan dia.

(2 Minggu kemudian)

Tak jauh dari tempat tersebut, aku didatangi oleh bapak yang sama.

“Mas, boleh minta tolong ga?” (Sambil tersenyum)

“Kenapa pak?”

“Begini mas, saya mau minta tolong, saya ingin pulang kampung, tapi ga ada ongkos. Saya sudah 2 minggu disini, mau pulang, tapi ga bisa.”

“Lah, dari 2 minggu lalu belum berhasil pulang juga mas? Waktu itu juga katanya 2 minggu, sekarang 2 minggu lagi?”

“Hah? Masa sih mas? Mas salah orang kali, bukan saya (Jawabnya terkaget).”

“Lah, iya mas kok, saya ingat muka mas. Ceritanya juga mirip”

“Ah, ngga mas, bukan saya, salah orang kali (dia mulai ketakutan, mungkin takut saya laporkan kali ya)”

“Ya sudah deh mas, saya masih banyak urusan.” saya langsung pergi dari tempat itu, dan saya lihat dia juga langsung bergegas pergi.

Menyebalkan? Ya, orang seperti itu memang menyebalkan.

Ada pengalaman lain lagi:

Kembali kali ini saya dihentikan oleh seorang ibu-ibu di pinggir jalan.

“Mas, boleh minta tolong ga?” (muka memelas)

“Kenapa bu?”

“Begini, ibu mau pulang, tapi ga ada ongkos”

“Oh, mau pulang kemana bu?”

“Ke… (mikir sejenak) XXX (aku ga terlalu ingat)”

“Oh… mau naik apa bu kesana?”

“Yah.. paling angkot”

“Berapa kali bu?”

“E…. (terlihat mikir) sekitar 4 kali mas… (sepertinya dia merasa sudah ketahuan sudah berbohong)”

“Kira-kira butuh berapa bu?”

“Yah, sekitar 12 ribu mas”

“Oh… gtu ya.. ya sudah, ini 20 ribu, semoga cukup ya bu..” kurogoh dan kutaruh selembar uang 20 ribu ditangannya. Aku langsung meninggalkan dia disana membengong.

Apakah dia menipu? Harusnya iya, saya cukup yakin iya. Barangkali itu juga hari pertama dia menipu. Tapi mengapa aku masih memberikan uang padanya? Ya, ada pertimbangan tersendiri bagiku:
1. Pertimbangan utamaku, nuraniku selalu tidak enak jika tak membantu orang-orang seperti itu. Orang-orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan, yang sebenarnya tidak suka harus melakukan hal seperti itu, namun terpaksa melakukannya.
2. Kedua, jika tak ada orang yang membantu dia, dia akan merasa kecewa terhadap dunia ini, terhadap Tuhan. Merasa bahwa tidak ada lagi orang baik di dunia ini dan melakukan hal jahat adalah sesuatu yang lumrah, toh tak ada lagi orang yang akan peduli pada orang-orang seperti dia.
3. Ketiga, aku masih berharap “rasa lepas dari malu dan ketahuan” yang kuberikan kepadanya dapat menjadi shock therapy baginya sehingga dia tidak lagi melakukan hal tersebut. Memang, alih-alih berubah, barangkali dia justru merasa kemampuan menipu dia hebat dan melakukan hal tersebut kembali.
4. Keempat, masalah menipu, itu dosa dia dengan Tuhan. Masalah membantu, itu urusanku dan Tuhan. Masalah apakah bantuan dan kebaikanku akan menjadi kejahatan dalam hidupnya, itu kuserahkan sepenuhnya pada Tuhan dan aku tak mau mencampuri urusan Tuhan untuk hal tersebut. Aku bukan Tuhan dan tak berniat untuk menjadi Tuhan. Toh Tuhan itu kan katanya mampu mengubah hal yang baik jadi buruk dan buruk jadi baik bukan? Bagianku sebagai manusia hanyalah hidup sebaik-baiknya.

Kita dapat dengan mudah membedakan hal yang benar untuk dilakukan. Hal yang baik juga barangkali tak terlalu susah untuk kita lakukan. Namun bagaimana dengan hal yang baik dan benar? Apakah hal yang baik selalu benar? Ataukah hal yang benar selalu baik? Bisakah kita melakukan hal yang benar dan baik?

Aku sendiri tak bisa menjawab pertanyaan tersebut, tak mampu melakukannya, tak sebijak itu.

Namun aku hanya ingin berbagi beberapa hal terkait hal ini. Aku sendiri memiliki pertimbangan khusus:
1. Aku tak akan pernah memberikan bantuan kepada seseorang yang jelas-jelas terlihat memanfaatkan kita.
Contoh: muka tak memiliki beban, bersifat manis hanya pada saat membutuhkan kita, tersenyum palsu, berkata tanpa beban semudah air mengalir.
2. Jika mereka terlihat sungkan untuk meminta bantuan, terlihat ragu, dan tampak memberikan usaha untuk meminta bantuanku, meski mereka sedang berusaha menipuku, aku akan membantu mereka. Aku tak akan berusaha mengatakan bahwa mereka sedang berbohong, seperti berkata “masa sih pak/bu?” “Ah yang benar bu butuh seperti itu?” “harusnya kan bapak/ibu bisa begini atau begitu”. Tidak, aku tahu bahwa kata-kata seperti akan menyakiti hati mereka dan berdampak lebih buruk. Aku lebih memilih untuk menunjukkan bahwa aku mau mendengarkan masalah “buatan” mereka, dan jika mereka meminta tolong dengan baik, tidak usah dengan cara menipu seperti ini pun, akan ada orang baik yang menolong mereka. Dan tanpa banyak komentar, aku akan memberikan bantuan kepada mereka.
3. Jika seseorang dapat menangis dengan tulus di hadapan ku, meski dia tak meminta bantuan, aku pasti akan membantunya.

Well, semoga tidak ada pengemis penipu yang membaca tulisanku dan malah belajar cara untuk menipu dengan baik dan benar, karena bukan baik dan benar itu yang sedang kubicarakan…

Author: Rain Drop

I keep walking the paveway Look up to the gray sky A drop of rain fall on my nose Will today be raining?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s