Will today be raining?

a tale of rain drop

[Cerpen] Metropolitan

2 Comments

Metropolitan


Apart01

Seorang pria paruh baya dengan bersetelan jas rapi turun dari sebuah mobil mewah di depan apartemen ternama kota metropolitan tersebut. Dia berjalan sambil membawa tas kerjanya menuju pintu masuk apartemen tersebut. Pekerja yang bertugas di pintu masuk itu segera membuka pintu itu sembari memberi salam kepada pria tersebut. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil ketika melewatinya. Dengan langkah yang sigap ia berjalan ke arah lift yang sedang terbuka.

Seorang wanita muda dengan pakaian rapi berwarna merah terlihat siaga di alam lift tersebut. “Ke lantai berapa pak?”, Tanya wanita di dalam lift tersebut dengan ramah. “Tujuh”, jawab pria itu dengan singkat. Tidak lama setelah wanita tersebut menekan angka tujuh, lift pun mulai melaju naik. Tanpa terasa pria tersebut pun sudah mencapai tempat yang diinginkannya. Pria itu sudah berada di depan kamarnya.

Begitu pria itu masuk ke dalam kamarnya, dihempaskan tas kerjanya ke atas sofa yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Ia menuju ke lemari pendingin yang terletak di belakang bar kecil. Diambilnya sebakul penuh es dari lemari pendingin tersebut dan dimasukkannya beberapa ke gelas whiskynya. Sebotol whisky baru yang masih terletak di dinding dekat bar dibukanya. Dari bibir botol tersebut mengalir ke dalam gelas, cairan berwarna kuning keemasan, bersinar akibat pantulan lampu ruangan yang temaram.

Whisky yang baru dituangnya itu tidak disentuhnya. Segelas whisky itu masih berada ditempatnya, di atas meja bar, tidak tersentuh. Sementara pandangannya terpaku pada ikan – ikan yang sedang berenang di dalam akuarium di belakang bar tersebut. Ikan – ikan beraneka warna berenang kian kemari di dalam cairan berwarna biru safir. Gelembung air dan ayunan ganggang hijau di dalam akuarium membawa pria tersebut jauh ke dalam lamunannya. “Andai hidup bisa seindah itu”, bisiknya pada diri sendiri.

Pria itu adalah seorang eksekutif muda yang sukses. Umurnya baru sekitar 29 tahun dan ia telah memiliki berbagai hal yang diinginkan oleh manusia lain. Uang bukanlah sebuah masalah baginya. Hidupnya setiap hari dipenuhi dengan kesibukan. Rapat, pertemuan dengan klien, rapat kembali, demikian kesibukannya setiap hari. Waktu makan siang seringkali terlewati olehnya sementara sewaktu malam pun ia telah terlalu lelah untuk sekedar memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya. Makanan yang dikecapnya hanya terasa hambar di mulutnya akibat kelelahan sepanjang hari.

Ia sudah lelah dengan pekerjaannya, ia jenuh dengan hari – hari yang dilaluinya. Setiap hari ia harus menghadapi pekerjaan yang penuh tipu muslihat, bawahan yang terus menerus menjilat padaya, kecurangan – kecurangan yang tidak pernah diketahui oleh orang – orang, semuanya dengan dalih taktik bisnis. Ia sudah muak melihat berbagai orang yang bekerja di dalam politik dan pemerintahan, muka manis yang dipasang di depan koran dan majalah tetapi ketika bertemu lebih ganas daripada singa! Dalam dunianya hanya uang yang berbicara.

Apakah arti dari kebahagiaan? Diteguknya sekali gelas whisky di hadapannya. Cairan kuning keemasan mengalir melewati kerongkongannya. Malam membawa lamunan pria itu semakin jauh, jauh ke masa kecilnya dulu. Ia masih ingat hari – hari kelam yang dilaluinya. Ayahnya selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ibu selalu marah – marah setiap hari. Sedari kecil ia tidak mengerti mengapa manusia harus bersikap seperti itu. Mengapa manusia harus menyakiti sesamanya. Bukan sekali dua kali ia menerima hajaran dan pukulan, telah berulang kali diterimanya disertai dengan makian. Di rumah ia dianggap tidak lebih dari seekor anjing, tempat pelampiasan amarah, tempat melupakan jannah1. Manusia telah menjadi lebih rendah dari hewan baginya. Dunia tidak lebih dari tempat untuk menuai dendam dan amarah dalam hari – harinya.

Dengan gigih diselesaikannya masa sekolahnya. Prestasi terbaik di sekolah selalu didapatkannya tetapi tidak pernah sekalipun orang tuanya bangga akan hal tersebut. Guru – guru dan teman – teman selalu mengenalnya sebagai anak yang baik, sopan, dan rajin. Dengan prestasi yang gemilang, beasiswa di universitas terbaik pun diterimanya. Ia pergi dari kota kelahirannya tanpa berkata apa – apa pada orang tuanya. Pergi meninggalkan rumah yang telah dianggapnya tidak lebih tinggi dari kandang hewan.

Meski sibuk oleh kuliah yang dijalani, tetap juga ia aktif dalam berbagai kegiatan. Kerja sampingan pun dilakoni di luar jam kuliahnya. Hanya dalam waktu tiga setengah tahun diselesaikannya kuliahnya dengan predikat cum laude. Berbagai tawaran pekerjaan dari perusahaan besar pun berdatangan pada dirinya bagaikan tawon mengelilingi bunga.

Detik demi detik dilaluinya, tetapi mimpinya setiap malam tidak pernah berubah. Ketakutan,deraan, dan hinaan yang diterimanya semasa kecil telah menjadi hantu dalam mimpinya. Tidak jarang ia berusaha melupakan semuanya itu dengan sedikit alkohol. Alkohol yang memabukkan, membawanya jauh ke alam mimpi, mimpi yang lebih gelap dan kelam, yang tidak dapat dibangunkan selain oleh sinar hangat sang surya.

Telah 11 tahun berlalu sejak terakhir kali ia melihat wajah kedua orang tuanya. Tidak pernah sekalipun dihubunginya kedua orang tuanya itu sejak Ia meninggalkan mereka. Bagaikan daun yang diterbangkan oleh angin, demikian Ia telah dilupakan – dan melupakan – orang tuanya.

Lamunannya kembali ke masa kini. Ditenggaknya sisa whisky di gelasnya. Semuanya terasa begitu hampa bagi dirinya. Cahaya yang terbias dari gelas dan sisa es di dalamnya membentuk berbagai warna yang indah. Diiringi gerakan ikan aneka warna yang berenang kian kemari di dalam akuarium, di tengah ganggang yang berayun dan gelembung air, Malampun semakin larut. Cahaya lampu ruangan yang temaram, menemani ribuan cahaya lain dari jutaan ruangan di kota itu. Membentuk suatu lautan bintang dari sebuah kota metropolitan, kota yang terbentuk dari mimpi dan keserakahan manusia. Keindahan palsu yang menutupi kekejian dan kejahatan manusia, bersatu dalam gemerlapan lampu – lampu kota aneka warna.

1jannah, bahasa arab جنّة, artinya surga.

Apart02

Author: Rain Drop

I keep walking the paveway Look up to the gray sky A drop of rain fall on my nose Will today be raining?

2 thoughts on “[Cerpen] Metropolitan

  1. Sepertinya memang suka gaya narasi ya? Coba dibangun lagi alurnya, show, not tell kata orang mah🙂

    Btw cara penulisannya lebih diperbaiki lagi sehingga lebih enak dibaca dan mengalir, misal:

    “Diambilnya sebakul penuh es dari lemari pendingin tersebut dan dimasukkannya beberapa ke gelas whiskynya”

    sudah ada berapa ‘nya’ dalam kalimat itu ya hehehehe….

    • hehe.. masih belajar nulis sih kk.. cma sekedar pengisi waktu luang ^^.

      saran yang sangat bagus.. akan saya coba di tulisan – tulisan berikutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s