Dusk of Year 2011

•December 7, 2011 • 2 Comments

Now we already reached the dusk of year 2011. It’s been a year already for me to live and work in Jakarta. A lot of things happen, a lot of story and memories, lots of new friends, acquitances, and some mere people which been liked or disliked.

Last of the year is the best day to reviewing what I have done for all these year, have I grown up? Or just staying the same? Or became even less? A lot of things coming in my mind while I am typing this.

I’ve been never posting on this blog since last March. Since then, I’ve been moving job. Met a lot of friends, learn a lot of things. Yet, I never feel my life has been fulfilled. Is this the life I always wanted? No, I never want to live like this. I never like to live like this, even despise it. But I must acknowledged, while I dream high, I didn’t have the capabilities to reach it yet. There’s just still so much things to learn, so much things to do, yet, my time is limited. I realize, I must manage my time wisely. Even until now, I can’t work this out : “write – do – review : write what you will do, do what you write, and review what you do“. Writing things out is easy, doing it is the hardest part, and reviewing it is even more. I just can’t keep my spirits up to do all of those things. But, I will promise myself to exert this next year!

Now I’ve been working for 6 months in this company, it’s a good company but not the best yet. I do know that if I am searching for the best, I’ll never found one, since there will always be the better one. Before I’ve been reading the story from the CEO of Coca Cola Company about “The life as juggling balls”. After reading this, I do realize that, working like this is never what I wanted and not what’s the best for me. This 6 months while the job is interesting - a lot of things to learn, a lot of experienced gained, a lot of people met, and a lot of respect gained – nevertheless it has been stressful for me. My tendencies toward perfection keep me from living this work simpler. I keep pushing myself to the limits. And now, at the end of the year, at this point, I am asking my self : “Is this the best for me? Is this what I should exert to myself? Will it do any good for me? Do I get what I want or will I get what I want?” Maybe, as truth as the Cocacola’s CEO once said : Work is just a rubber ball, you can always drop it and it will always bounce back. I realize I have a lot of others things to do, I have a lot of others things need to be tended, more than just my professional’s life.

I’ve been planning and separating my life into 8 big stages. I’ve ever reached the stage 2 and fall down to stage 0 because of my stupidity and other’s mistake. As thus, now I am at stage 1. 7 stages to go, will I ever reach the top of it? I wouldn’t tell you what are those stages, but 1 things for sure, even I am doubting myself about those stages which has been made by myself. But, as an old wisdom saying : “Always reach for the star for even if you can’t reach it, you’ll still be on the sky.” It’s so hard to climbing up after you fell down. But, I’ll try to give my best to fulfill what I dream on. And for this one, I’ll not let anyone let me down. I better doing all of the things by myself and trust no other for the things that should just be done by me and myself only.

I need some vacation and get out from all of this routine, so I can refresh my mind and rethink what should I do for my next life. I hope the end of this year will give me good time to think about what should I do for the next of my life.

Blood Type Comic – Overview

•March 27, 2011 • 2 Comments

Here is another blood type comic that I found. Check it out!

and don’t forget to check the other two in case you haven’t see them ;)

  1. Blood Type Comic 1
  2. Blood Type Comic 2


New blood type comic

•January 10, 2011 • 5 Comments

I just found out this new blood type comic, differ from the last one at here, and the next one at here. I hope you can enjoy it, as much as the last one ;) .

Severn Suzuki – Enviromentalist, Scientist, Leader

•January 8, 2011 • Leave a Comment

Beberapa waktu lalu aku menemukan berita mengenai seorang anak kecil berusia 12 tahun yang berhasil menggemparkan dunia dengan pidatonya di sidang PBB/UN. Oleh karena tertarik dengan berita tersebut, aku pun mencari lebih lanjut mengenai pidato yang diberikan olehnya di sidang PBB/UN tersebut. Setelah membaca pidato tersebut, aku tidak heran jika ia mendapatkan standing ovation dari seluruh hadirin. Ia adalah seorang pemerhati lingkungan (enviromentalist), seorang ilmuwan (scientist), dan juga seorang pemimpin (leader).

Tertarik dengan berita dan pidatonya? Berikut isinya :)

*PBB/UN = Perserikatan Bangsa-bangsa/United Nations

Despite the age of 12 years, but Servern Cullis Suzuki-have been invited to give a speech at the Conference on the Environment, which was attended by world leaders at this time.

As a representative of the Environmental Children’s Organization (ECO) and his group consisted of children aged 12 to 13 years old this year, was able to convince, how important and serious the environmental problems we are facing this.

“Today I feel very ashamed of myself because I just made aware of how important the environment and its contents around us by a child who is only 12 years old, an advanced standing in this pulpit without any piece of text to speech. While I am bringing forward pages manuscripts that have been made by my assistant yesterday “, said Chairman of the United Nations(UN),Ban Ki-moon, some time ago.

Terjemahan :

Terlepas dari usianya yang masih 12 tahun, Servern Suzuki-Cullis telah diundang untuk memberikan pidato di konferensi mengenai lingkungan, yang dihadiri juga oleh para pemimpin dunia.

Sebagai wakil dari Organisasi Lingkungan Anak (ECO) dan kelompoknya yang terdiri dari anak-anak berumur 12 dan 13 tahun, berhasil meyakinkan hadirin mengenai seberapa penting dan seriusnya masalah lingkungan yang sedang kita hadapi.

“Hari ini aku merasa sangat malu pada diriku sendiri karena aku baru saja disadarkan mengenai betapa pentingnya lingkungan hidup dan sekitar kita oleh seorang anak kecil berumur 12 tahun, berbicara di panggung ini tanpa selembar kertas pun untuk berpidato. Sementara aku membawa berhalaman-halaman manuskrip yang dibuat oleh asistenku kemarin.” Kata Ketua dari United Nations (UN), Ban ki moon, beberapa waktu lalu.

 

Isi pidatonya :

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization.

Kami Adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON.

Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut  masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.

Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan  “Ini bukanlah akhir dari segalanya”.

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?

Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata-kata mu”

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

 

Note :

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya.

Setelah pidato nya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

 

 

Obama’s Speech

•November 10, 2010 • Leave a Comment

After reading this speech, these words came into my mind : “When we said, we are Indonesian, do we love it better than them, who aren’t ?”

 

Obama’s Speech at Jakarta – Indonesia

THE WHITE HOUSE
Office of the Press Secretary

_______________________________________________________________________________
EMBARGOED UNTIL DELIVERY
November 10, 2010

Remarks of President Barack Obama -
As Prepared for Delivery
Jakarta, Indonesia
November 10, 2010

As Prepared for Delivery—

Thank you for this wonderful welcome. Thank you to the people of Jakarta. And thank you to the people of Indonesia.

I am so glad that I made it to Indonesia, and that Michelle was able to join me. We had a couple of false starts this year, but I was determined to visit a country that has meant so much to me. Unfortunately, it’s a fairly quick visit, but I look forward to coming back a year from now, when Indonesia hosts the East Asia Summit.

Before I go any further, I want to say that our thoughts and prayers are with all of those Indonesians affected by the recent tsunami and volcanic eruptions – particularly those who have lost loved ones, and those who have been displaced. As always, the United States stands with Indonesia in responding to this natural disaster, and we are pleased to be able to help as needed. As neighbors help neighbors and families take in the displaced, I know that the strength and resilience of the Indonesian people will pull you through once more.

Let me begin with a simple statement: Indonesia is a part of me. I first came to this country when my mother married an Indonesian man named Lolo Soetoro. As a young boy, I was coming to a different world. But the people of Indonesia quickly made me feel at home.

Jakarta looked very different in those days. The city was filled with buildings that were no more than a few stories tall. The Hotel Indonesia was one of the few high rises, and there was just one brand new shopping center called Sarinah. Betchaks outnumbered automobiles in those days, and the highway quickly gave way to unpaved roads and kampongs.

We moved to Menteng Dalam, where we lived in a small house with a mango tree out front. I learned to love Indonesia while flying kites, running along paddy fields, catching dragonflies, and buying satay and baso from the street vendors. Most of all, I remember the people – the old men and women who welcomed us with smiles; the children who made a foreigner feel like a neighbor; and the teachers who helped me learn about the wider world.

Because Indonesia is made up of thousands of islands, hundreds of languages, and people from scores of regions and ethnic groups, my times here helped me appreciate the common humanity of all people. And while my stepfather, like most Indonesians, was raised a Muslim, he firmly believed that all religions were worthy of respect. In this way, he reflected the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.

I stayed here for four years – a time that helped shape my childhood; a time that saw the birth of my wonderful sister, Maya; and a time that made such an impression on my mother that she kept returning to Indonesia over the next twenty years to live, work and travel – pursuing her passion of promoting opportunity in Indonesia’s villages, particularly for women and girls. For her entire life, my mother held this place and its people close to her heart.

So much has changed in the four decades since I boarded a plane to move back to Hawaii. If you asked me – or any of my schoolmates who knew me back then – I don’t think any of us could have anticipated that I would one day come back to Jakarta as President of the United States. And few could have anticipated the remarkable story of Indonesia over these last four decades.

The Jakarta that I once knew has grown to a teeming city of nearly ten million, with skyscrapers that dwarf the Hotel Indonesia, and thriving centers of culture and commerce. While my Indonesian friends and I used to run in fields with water buffalo and goats, a new generation of Indonesians is among the most wired in the world – connected through cell phones and social networks. And while Indonesia as a young nation focused inward, a growing Indonesia now plays a key role in the Asia Pacific and the global economy.

This change extends to politics. When my step-father was a boy, he watched his own father and older brother leave home to fight and die in the struggle for Indonesian independence. I’m happy to be here on Heroes Day to honor the memory of so many Indonesians who have sacrificed on behalf of this great country.

When I moved to Jakarta, it was 1967, a time that followed great suffering and conflict in parts of this country. Even though my step-father had served in the Army, the violence and killing during that time of political upheaval was largely unknown to me because it was unspoken by my Indonesian family and friends. In my household, like so many others across Indonesia, it was an invisible presence. Indonesians had their independence, but fear was not far away.

In the years since then, Indonesia has charted its own course through an extraordinary democratic transformation – from the rule of an iron fist to the rule of the people. In recent years, the world has watched with hope and admiration, as Indonesians embraced the peaceful transfer of power and the direct election of leaders. And just as your democracy is symbolized by your elected President and legislature, your democracy is sustained and fortified by its checks and balances: a dynamic civil society; political parties and unions; a vibrant media and engaged citizens who have ensured that – in Indonesia — there will be no turning back.

But even as this land of my youth has changed in so many ways, those things that I learned to love about Indonesia – that spirit of tolerance that is written into your Constitution; symbolized in your mosques and churches and temples; and embodied in your people – still lives on. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important role in the 21st century.

So today, I return to Indonesia as a friend, but also as a President who seeks a deep and enduring partnership between our two countries. Because as vast and diverse countries; as neighbors on either side of the Pacific; and above all as democracies – the United States and Indonesia are bound together by shared interests and shared values.

Yesterday, President Yudhoyono and I announced a new, Comprehensive Partnership between the United States and Indonesia. We are increasing ties between our governments in many different areas, and – just as importantly – we are increasing ties among our people. This is a partnership of equals, grounded in mutual interests and mutual respect.

With the rest of my time today, I’d like to talk about why the story I just told – the story of Indonesia since the days when I lived here – is so important to the United States, and to the world. I will focus on three areas that are closely related, and fundamental to human progress – development, democracy, and religion.

First, the friendship between the United States and Indonesia can advance our mutual interest in development.

When I moved to Indonesia, it would have been hard to imagine a future in which the prosperity of families in Chicago and Jakarta would be connected. But our economies are now global, and Indonesians have experienced both the promise and perils of globalization: from the shock of the Asian financial crisis in the 1990s to the millions lifted out of poverty. What that means – and what we learned in the recent economic crisis – is that we have a stake in each other’s success.

America has a stake in an Indonesia that is growing, with prosperity that is broadly shared among the Indonesian people – because a rising middle class here means new markets for our goods, just as America is a market for yours. And so we are investing more in Indonesia, our exports have grown by nearly 50 percent, and we are opening doors for Americans and Indonesians to do business with one another.

America has a stake in an Indonesia that plays its rightful role in shaping the global economy. Gone are the days when seven or eight countries could come together to determine the direction of global markets. That is why the G-20 is now the center of international economic cooperation, so that emerging economies like Indonesia have a greater voice and bear greater responsibility. And through its leadership of the G-20’s anti-corruption group, Indonesia should lead on the world stage and by example in embracing transparency and accountability.

America has a stake in an Indonesia that pursues sustainable development, because the way we grow will determine the quality of our lives and the health of our planet. That is why we are developing clean energy technologies that can power industry and preserve Indonesia’s precious natural resources – and America welcomes your country’s strong leadership in the global effort to combat climate change.

Above all, America has a stake in the success of the Indonesian people. Underneath the headlines of the day, we must build bridges between our peoples, because our future security and prosperity is shared. That is exactly what we are doing – by increased collaboration among our scientists and researchers, and by working together to foster entrepreneurship. And I am especially pleased that we have committed to double the number of American and Indonesian students studying in our respective countries – we want more Indonesian students in our schools, and more American students to come study in this country, so that we can forge new ties that last well into this young century.

These are the issues that really matter in our daily lives. Development, after all, is not simply about growth rates and numbers on a balance sheet. It’s about whether a child can learn the skills they need to make it in a changing world. It’s about whether a good idea is allowed to grow into a business, and not be suffocated by corruption. It’s about whether those forces that have transformed the Jakarta that I once knew –technology and trade and the flow of people and goods – translate into a better life for human beings, a life marked by dignity and opportunity.

This kind of development is inseparable from the role of democracy.

Today, we sometimes hear that democracy stands in the way of economic progress. This is not a new argument. Particularly in times of change and economic uncertainty, some will say that it is easier to take a shortcut to development by trading away the rights of human beings for the power of the state. But that is not what I saw on my trip to India, and that is not what I see in Indonesia. Your achievements demonstrate that democracy and development reinforce one another.

Like any democracy, you have known setbacks along the way. America is no different. Our own Constitution spoke of the effort to forge a “more perfect union,” and that is a journey we have travelled ever since, enduring Civil War and struggles to extend rights to all of our citizens. But it is precisely this effort that has allowed us to become stronger and more prosperous, while also becoming a more just and free society.

Like other countries that emerged from colonial rule in the last century, Indonesia struggled and sacrificed for the right to determine your destiny. That is what Heroes Day is all about – an Indonesia that belongs to Indonesians. But you also ultimately decided that freedom cannot mean replacing the strong hand of a colonizer with a strongman of your own.

Of course, democracy is messy. Not everyone likes the results of every election. You go through ups and downs. But the journey is worthwhile, and it goes beyond casting a ballot. It takes strong institutions to check the concentration of power. It takes open markets that allow individuals to thrive. It takes a free press and an independent justice system to root out abuse and excess, and to insist upon accountability. It takes open society and active citizens to reject inequality and injustice.

These are the forces that will propel Indonesia forward. And it will require a refusal to tolerate the corruption that stands in the way of opportunity; a commitment to transparency that gives every Indonesian a stake in their government; and a belief that the freedom that Indonesians have fought for is what holds this great nation together.

That is the message of the Indonesians who have advanced this democratic story – from those who fought in the Battle of Surabaya 55 years ago today; to the students who marched peacefully for democracy in the 1990s, to leaders who have embraced the peaceful transition of power in this young century. Because ultimately, it will be the rights of citizens that will stitch together this remarkable Nusantara that stretches from Sabang to Merauke – an insistence that every child born in this country should be treated equally, whether they come from Java or Aceh; Bali or Papua.

That effort extends to the example that Indonesia sets abroad. Indonesia took the initiative to establish the Bali Democracy Forum, an open forum for countries to share their experiences and best practices in fostering democracy. Indonesia has also been at the forefront of pushing for more attention to human rights within ASEAN. The nations of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny, and the United States will strongly support that right. But the people of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny as well. That is why we condemned elections in Burma that were neither free nor fair. That is why we are supporting your vibrant civil society in working with counterparts across this region. Because there is no reason why respect for human rights should stop at the border of any country.

Hand in hand, that is what development and democracy are about – the notion that certain values are universal. Prosperity without freedom is just another form of poverty. Because there are aspirations that human beings share – the liberty of knowing that your leader is accountable to you, and that you won’t be locked up for disagreeing with them; the opportunity to get an education and to work with dignity; the freedom to practice your faith without fear or restriction.

Religion is the final topic that I want to address today, and – like democracy and development – it is fundamental to the Indonesian story.

Like the other Asian nations that I am visiting on this trip, Indonesia is steeped in spirituality – a place where people worship God in many different ways. Along with this rich diversity, it is also home to the world’s largest Muslim population – a truth that I came to know as a boy when I heard the call to prayer across Jakarta.

Just as individuals are not defined solely by their faith, Indonesia is defined by more than its Muslim population. But we also know that relations between the United States and Muslim communities have frayed over many years. As President, I have made it a priority to begin to repair these relations. As a part of that effort, I went to Cairo last June, and called for a new beginning between the United States and Muslims around the world – one that creates a path for us to move beyond our differences.

I said then, and I will repeat now, that no single speech can eradicate years of mistrust. But I believed then, and I believe today, that we do have a choice. We can choose to be defined by our differences, and give in to a future of suspicion and mistrust. Or we can choose to do the hard work of forging common ground, and commit ourselves to the steady pursuit of progress. And I can promise you – no matter what setbacks may come, the United States is committed to human progress. That is who we are. That is what we have done. That is what we will do.

We know well the issues that have caused tensions for many years – issues that I addressed in Cairo. In the 17 months that have passed we have made some progress, but much more work remains to be done.

Innocent civilians in America, Indonesia, and across the world are still targeted by violent extremists. I have made it clear that America is not, and never will be, at war with Islam. Instead, all of us must defeat al Qaeda and its affiliates, who have no claim to be leaders of any religion – certainly not a great, world religion like Islam. But those who want to build must not cede ground to terrorists who seek to destroy. This is not a task for America alone. Indeed, here in Indonesia, you have made progress in rooting out terrorists and combating violent extremism.

In Afghanistan, we continue to work with a coalition of nations to build the capacity of the Afghan government to secure its future. Our shared interest is in building peace in a war-torn land – a peace that provides no safe-haven for violent extremists, and that provides hope for the Afghan people.

Meanwhile, we have made progress on one of our core commitments – our effort to end the war in Iraq. 100,000 American troops have left Iraq. Iraqis have taken full responsibility for their security. And we will continue to support Iraq as it forms an inclusive government and we bring all of our troops home.

In the Middle East, we have faced false starts and setbacks, but we have been persistent in our pursuit of peace. Israelis and Palestinians restarted direct talks, but enormous obstacles remain. There should be no illusions that peace and security will come easy. But let there be no doubt: we will spare no effort in working for the outcome that is just, and that is in the interest of all the parties involved: two states, Israel and Palestine, living side by side in peace and security.

The stakes are high in resolving these issues, and the others I have spoken about today. For our world has grown smaller and while those forces that connect us have unleashed opportunity, they also empower those who seek to derail progress. One bomb in a marketplace can obliterate the bustle of daily commerce. One whispered rumor can obscure the truth, and set off violence between communities that once lived in peace. In an age of rapid change and colliding cultures, what we share as human beings can be lost.

But I believe that the history of both America and Indonesia gives us hope. It’s a story written into our national mottos. E pluribus unum – out of many, one. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. We are two nations, which have travelled different paths. Yet our nations show that hundreds of millions who hold different beliefs can be united in freedom under one flag. And we are now building on that shared humanity – through the young people who will study in each other’s schools; through the entrepreneurs forging ties that can lead to prosperity; and through our embrace of fundamental democratic values and human aspirations..

Earlier today, I visited the Istiqlal mosque – a place of worship that was still under construction when I lived in Jakarta. I admired its soaring minaret, imposing dome, and welcoming space. But its name and history also speak to what makes Indonesia great. Istiqlal means independence, and its construction was in part a testament to the nation’s struggle for freedom. Moreover, this house of worship for many thousands of Muslims was designed by a Christian architect.

Such is Indonesia’s spirit. Such is the message of Indonesia’s inclusive philosophy, Pancasila. Across an archipelago that contains some of God’s most beautiful creations, islands rising above an ocean named for peace, people choose to worship God as they please. Islam flourishes, but so do other faiths. Development is strengthened by an emerging democracy. Ancient traditions endure, even as a rising power is on the move.

That is not to say that Indonesia is without imperfections. No country is. But here can be found the ability to bridge divides of race and region and religion – that ability to see yourself in all individuals. As a child of a different race coming from a distant country, I found this spirit in the greeting that I received upon moving here: Selamat Datang. As a Christian visiting a mosque on this visit, I found it in the words of a leader who was asked about my visit and said, “Muslims are also allowed in churches. We are all God’s followers.”

That spark of the divine lies within each of us. We cannot give in to doubt or cynicism or despair. The stories of Indonesia and America tell us that history is on the side of human progress; that unity is more powerful than division; and that the people of this world can live together in peace. May our two nations work together, with faith and determination, to share these truths with all mankind.

Menguak misteri orang yang bertambah

•September 19, 2010 • Leave a Comment

Saya menjadi tertarik setelah melihat gambar berikut ini :

Pada gambar tersebut, ada 2 fase, yakni pada fase 1, gambar tersebut berjumlah 12 orang, sementara pada fase 2, gambar tersebut berjumlah 13 orang.

Jika diperlihatkan secara lebih jelas, gambar tersebut dapat dibagi sebagai berikut :

Fase 1 :

Fase 2 :

Dilihat sekilas, pada fase 2 orang yang bertambah adalah orang yang berada di lingkaran berwarna merah. Namun tidak pula ada hal yang benar-benar aneh dengan dirinya yang berada di sana.

Terdorong oleh rasa penasaran, aku pun mulai mencari, siapakah sebenarnya penyusup itu?

Aku menamai seluruh orang yang berada di gambar tersebut sehingga pada akhirnya ditemukan seorang bernama X pada gambar fase 2 (selanjutnya disebut x-2). Jika ditelaah lebih lanjut, x-2 berasal dari potongan rambut g-1, potongan rambut g-1 digantikan oleh d-1, sementara d-1 tetap berada di tempatnya (alias tidak digantikan). aha, ternyata ditemukan bahwa penyebab orang bertambah karena si d-1 yang berubah menjadi 2 orang, yakni d-1 dan g-1.

sehingga dapat dituliskan alurnya sebagai berikut :

d-1 –> d-1 & g-1

g-1 –> x-2

sementara perpindahan yang lainnya dapat dilihat pada gambar sesuai dengan abjad nama masing-masing. .

Apa yang kamu lakukan saat kamu mengenal komputer?

•September 12, 2010 • 6 Comments

Judul kali ini agak panjang, namun aku tertarik untuk membiarkannya seperti itu.

tertarik pada pertanyaan yang kubaca beberapa waktu lalu, mengenai : “Apa sih yang kamu lakukan dulu sewaktu mengenal internet?”

Pertanyaan ini membawaku bernostalgia ke waktu yang lampau, kurang lebih 10 tahun lalu. Rasanya sewaktu aku mengenal internet aku masih berumur 12 tahun. Bernostalgia semakin lama malah membawaku kembali ke 15 tahun lalu, saat aku mengenal komputer. . Apa ya yang kulakuin pertama sekali dulu? Hm. . . .

Aplikasi yang pertama sekali kukenal di komputer itu rasanya paint brush (di windows 95). Maklum anak kecil, daripada nyoretin kertas, nyoretnya di paint brush, warna bebas milih, kertas tak terbatas*. (*selama persediaan listrik masih ada) hehe.

sekarang?

Game pertama yang kumainin di komputer ? Wah, sudah ga ingat, tapi kalau ga salah sih PIPE DREAM. Setelah itu dilanjutkan dengan the fantastic adventure of dizzy, sim city 2000, sim tower, sim town, sim farm, pizza tycoon, war craft I, uncharted water, new horizon I, command & conquer, command & conquer : red alert, romance of the three kingdom III, romance of the three kingdom IV, theme hospital, might vs magic, lord of the realm, rage of mages I, rage of mages II, warcraft II, seven kingdoms I, pizza tycoon, roller coaster tycoon I, roller coaster tycoon II, transport tycoon, harvest moon (pake emulator), diablo I, diablo II, the sims, dan berbagai seri lain yang ga bisa kusebutkan satu persatu. mengingat masa-masa dimana berkutat dengan game yang berukuran di bawah 1MB dan maksimal puluhan MB, Harddisk seukuran 200MB yang sering penuh cuma gara-gara diinstall 1 atau 2 game, memory 32 MB yang udah dianggap gede, dan prosesor dengan kekuatan dibawah 600MHz (Pentium I 133 MHz, Pentium II 233 MHz, dan Pentium III 533 MHz), wah, ga terasa ternyata aku gamer berat juga waktu itu . . .

sekarang?

Game LAN pertama sekali yang kukenal itu rasanya Quake III arena. Ah, barangkali ini pula yang pertama sekali bikin aku semakin jatuh cinta pada game dan pada akhirnya ga bisa lepas dari komputer. Setelah bermain Quake III Arena, aku juga bermain Rage of Mages secara LAN, dilanjutkan dengan counter strike, terus Diablo II.

sekarang?

Aplikasi yang berhubungan dengan internet yang kupakai dulu itu rasanya mIRC. Hal itu membuat ku teringat berbagai server yang kumasuki, channel-channel yang kuikuti, dan beragam orang yang kukenal meski tak pernah kulihat. Server apa aja ya yang dulu kuikuti? Aku bahkan sudah tak ingat, haha. . . salah satunya yang masih kuingat itu “dal.net”. channel-nya? wah . . . sudah lupa sama sekali.  . .yang jelas, rasanya dulu kalau dijadiin op (operator) bangga sekali rasanya. hehe. tulisan yang berwarna-warni, pembicaraan ngalur-ngidul yang selalu dimulai dengan “aslpls (age sex live, please) ?”, atau pada saat bermain kuis di channel-channel yang diselenggarakan oleh para bot. Rasanya lucu kalau mengingat waktu itu. .  .

sekarang?

Website yang pertama kubuka sudah ga terlalu kuingat, tapi rasanya website yang waktu itu beken adalah Yahoo! dan Astaga.com!. Sewaktu aku membuka kedua website itu juga aku ga ingat ngapain aja. di Astaga.com! sih dulu aku suka main mini-games yang ada disana dan membaca zodiak yang juga disediakan. Haha, dasar anak muda. Selain kedua website itu, aku juga suka membuka website ketawaketiwi.com, website yang menyediakan cerita-cerita lucu. Dulu aku suka mengambil cerita disini untuk diceritakan pada teman-teman di sekolah, cukup menghibur. hehe!

sekarang?

Game online yang pertama kumainkan itu Nexia, game MMORPG pertama di Indonesia yang sudah tak terdengar kabarnya (a.k.a di tutup). Model gambar 2 dimensi dengan sambungan internet putus nyambung, super lag dimana jalan dari satu peta ke peta lain bisa 1 jam lamanya, tapi kok ya masih dimaenin ya?

sekarang?

Ah, ternyata kalau mengingat-ingat kembali sudah begitu banyak waktu yang kuhabiskan di depan kotak kaca ajaib penuh tulisan dan titik-titik berwarna ini. Thx komputer yang sudah senantiasa menemaniku, entah apa yang terjadi kalo aku lahir di jaman sebelum kamu? Mungkin aku sudah jadi seorang ilmuwan yang mengucapkan terima kasih pada kalkulator karena selama ini aku berkutat dengan kertas dan pensil.

Untuk semua pertanyaan sekarang? Mungkin aku akan menjawabnya sepuluh atau lima belas tahun lagi saat aku mengingat masa-masa ini. ;)

Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda lakukan dulu sewaktu mengenal komputer?
ayo tulis di blog mu dan jangan lupa pingback kesini ;)

[Review] The Expendables

•August 20, 2010 • Leave a Comment

Sebuah film karya sutradara ternama “Sylvester Stallone” setelah film terakhirnya, yakni “Rambo” pada tahun 2008 lalu. Film bergenre “action” ini dibintangi oleh berbagai bintang ternama, sebut saja beberapa di antaranya : “Dolph Lundgren”, “Mickey Rourke”, “Jet Li”, “Bruce Willis”, “Arnold Schwarzenegger”, dan tentu saja “Sylvester Stallone” sendiri. Film ini sendiri merupakan film pertama bagi Arnold dalam 6 tahun terakhir setelah film terakhirnya “Around the World in 80 days” pada tahun 2004 lalu. Namun, meskipun dipenuhi oleh banyak bintang ternama, jangan terlalu berharap bahwa Anda dapat melihat semua bintang tersebut berlaga di layar Anda karena beberapa diantaranya hanya berperan sebagai “cameo”.

Sebagai sebuah film yang disutradarai oleh “Sylvester Stallone”, bolehlah Anda berharap akan disajikan dengan sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai aksi laga. Rentetan tembakan senjata, gerakan-gerakan laga dalam jarak dekat, ledakan bom dengan efek yang baik, kebut-kebutan di jalan, hal-hal seperti itulah yang akan ditemukan dalam film ini. Selain itu, Film ini juga menyediakan humor-humor anekdot yang dikemas secara rapi di antara percakapannya. Beberapa humornya tidak terlalu dapat kumengerti, namun secara keseluruhan aku masih dapat tertawa di saat menonton film ini.

Jika harus memberikan sebuah komentar untuk film ini, barangkali “A Teen Movie” merupakan judul yang cocok bagi komentar tersebut. Film ini menceritakan sebuah tim tentara bayaran yang berusaha membebaskan sebuah negara di Amerika Selatan bernama Vilena dari kediktatoran seorang Jendral bernama Gaza dan seorang agen bekas CIA bernama James Monroe. Tim itu terdiri dari 6 orang. Barney Ross (Sylvester Stallone) sebagai pemimpin dari tim tersebut, seorang yang tidak mengenal rasa takut, pembuat strategi bagi tim tersebut, dan keahliannya ada pada kecepatan menembaknya. Lee Christmas (Jason Statham), mantan anggota angkatan udara SAS, memiliki kemampuan akurasi dan kecepatan yang tinggi di dalam melemparkan pisau kepada lawannya, selalu bersaing dengan “Ross” dalam hal kecepatan antara lemparan pisau dan tembakan peluru. Yin Yang (Jet Li), ahli tarung jarak dekat, memiliki kecepatan dan kegesitan yang baik. Hale Caesar (Terry Crews), ahli di dalam senapan mesin laras panjang. Toll Road (Randy Couture), ahli bahan peledak dan seorang yang cukup intelek, dan terakhir Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), seorang veteran petarung yang ahli dalam tembakan jarak jauh, yang juga menjadi tokoh antagonis dan protagonis secara sekaligus pada film ini.

Film ini memberikan gerakan yang baik di dalam aksi laga maupun baku tembaknya, meski seluruh aksi tersebut harus menjadi sedikit redup akibat gerakan kamera yang sangat cepat. Hal tersebut dapat dimengerti bahwa gerakan cepat kamera dipergunakan untuk menutupi aksi kekerasan yang sebenarnya terlalu sadis untuk ditunjukkan kepada penonton, baik seperti tubuh yang tercerai berai, maupun tulang yang patah. Ledakan-ledakan yang terjadi dengan efek yang mengagumkan dimiliki oleh Film ini, namun hanya itu saja yang terlihat (atau barangkali memang hanya itu saja yang berusaha diperlihatkan?), hal lain menjadi tidak terlihat oleh karena perpindahan adegan yang terlalu cepat dari kamera.

Apabila Anda adalah seorang yang tidak menyukai Film serius, Anda lebih suka duduk bersandar pada sebuah kursi/sofa yang empuk dan membiarkan diri Anda dimanja oleh Film laga kesenangan Anda, maka Film ini dapat menjadi salah satu pilihan Anda. Cukup biarkan diri Anda duduk bersantai dengan sebuah pop corn dan segelas besar minuman soda, tak perlu memperhatikan jalan cerita (meski berusaha diperhatikan tidak ada jalan cerita yang perlu diteliti secara mendalam disana), cukup nikmati saja berbagai aksi laga dan efek yang disajikan oleh Film ini. Meski Anda tidak melihat bagian awal pada Film ini, namun Anda melihat bagian akhir Film ini, Anda tetap akan mengerti jalan cerita dari Film ini.

Film ini memiliki Jalan cerita yang mudah sekali ditebak, 5 orang melawan 1 batalion pasukan tentara yang terlatih, menghadapi berbagai pertarungan jarak dekat, baku tembak baik menggunakan pistol maupun senjata otomatis, hingga mempergunakan berbagai jenis bahan peledak yang berbahaya, berapa besar kemungkinan yang dimiliki untuk keluar hidup-hidup ataupun tanpa luka dan memenangkan peperangan tersebut ? Kemungkinan itulah yang diperlihatkan oleh Film ini. Maka, barangkali memang cocok jika komentar untuk Film ini adalah “A Teen Movie” namun yang terbaik baginya, tidak perlu berpikir, tidak perlu serius, cukup nikmati dan kagumi saja semua yang disajikan di hadapan mata Anda dengan sepiring kudapan untuk teman nonton dan segelas besar minuman kesukaan Anda.

Sebuah kalimat penutup film bagi film ini, “Good effects and Good sounds, that’s all it takes to make a good movie, not the best one.”

Rating : 6.7/10

IMDB Rating : 7.7/10

[Review] Inception

•August 17, 2010 • 2 Comments

Film Inception merupakan salah satu film science fiction karya sutradara Christoper Nolan, sutradara yang sama dengan “Batman : The Dark Knight”. Film ini diperankan oleh “Leonardo DiCaprio” sebagai pemeran utamanya. Artis muda “Ellen Page” juga menjadi salah satu aktris dalam film ini. Sejujurnya sangat sulit untuk melakukan review terhadap film ini, review terbaik bagi film ini barangkali hanya satu frasa : “Wajib untuk ditonton” dan sesudah itu membiarkan Anda dan imajinasi Anda bermain untuk memperkirakan plot film ini hingga Anda menontonnya sendiri. Ada kesenangan tersendiri untuk menonton film ini tanpa mengetahui sedikitpun isi cerita dari film ini.

Bila Anda tetap ingin mengetahui review dari film ini, silakan teruskan untuk membaca ke bawah.

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Cobb (diperankan oleh “Leonardo DiCaprio”) yang juga adalah seorang pencuri berkeahlian tinggi. Berbeda dengan pencuri pada umumnya, pada film ini yang dicuri adalah informasi dari pikiran seseorang. Pada masa di film itu, dikembangkan sebuah teknologi bernama Inception, yakni sebuah alat untuk memasuki mimpi seseorang dan memanipulasi mimpi tersebut untuk mendapatkan informasi rahasia yang dimiliki dari orang yang dituju.

Cara kerja alat “Inception” ini adalah sebagai berikut :

Sewaktu bermimpi, otak manusia bekerja lebih cepat daripada sewaktu bangun. Hal ini menyebabkan ketika seseorang bermimpi, waktu yang dijalaninya di dalam mimpi tersebut lebih lama dibandingkan dengan waktu yang ada di dunia nyata.Perbandingan waktu yang dimiliki antara dunia nyata dan dunia mimpi adalah 1 : 12, yakni 1 detik di dunia nyata sama dengan 12 detik di dunia mimpi. Seringkali pula seseorang yang bermimpi tidak menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi sebab ia berada di bawah alam sadarnya. Seseorang yang sedang bermimpi tidak pernah menyadari mengapa ia dapat berada di suatu tempat atau kapan ia berada di tempat itu, saat ia menyadari hal tersebut, ia menyadari bahwa dirinya bermimpi.

Seseorang yang sedang bermimpi, menciptakan dunianya dari segala hal yang tersimpan di dalam pikirannya, bahkan hal yang paling rahasia sekalipun. Informasi-informasi rahasia yang dimiliki oleh seseorang akan tersimpan di dalam tempat yang paling aman di dalam mimpinya seperti “Bank”, “Kantor Polisi”, “Brankas”, “Ruangan Rahasia”, dan berbagai tempat lainnya. Tidak perlu bertanya pada orang tersebut, seseorang yang memasuki mimpi orang lain dengan menggunakan Inception, cukup “membongkar” tempat rahasia tersebut.

Orang yang memasuki mimpi orang lain dengan menggunakan Inception akan dianggap sebagai “pengganggu” oleh alam bawah sadar orang yang bermimpi. Alam bawah sadar dari orang yang mimpinya dimasuki akan memproyeksikan orang-orang yang dikenalinya sebagai orang-orang yang berada di sekitar mimpi tersebut, dinamakan dengan “shades”. Apabila alam bawah sadar menganggap bahwa orang yang memasuki mimpi tersebut berbahaya, “shades” akan berusaha untuk membunuhnya (seperti sel darah putih yang membunuh bakteri yang masuk ke dalam tubuh).

Seorang pengusaha kaya bernama Saito, yang semula menjadi target pencurian dari Cobb, menawarkan kepada Cobb sebuah misi. Berbeda dengan misi-misi Cobb sebelumnya, Saito tidak menginginkan informasi dari lawannya, namun ia ingin menanamkan informasi ke dalam pikiran bawah sadar dari lawannya tersebut. Saito memiliki saingan bisnis bernama Maurice Fisher yang sedang sakit keras dan akan meninggal sebentar lagi. Kematian saingan bisnisnya menyebabkan seluruh perusahaan milik saingannya tersebut akan diwariskan kepada anak tunggalnya yang bernama Robert Fischer. Saito menginginkan Cobb membuat Robert Fischer membubarkan perusahaan milik ayahnya. Tawaran yang diberikan oleh Saito kepada Cobb adalah kebebasan dari semua kesalahan yang dilakukannya di negara asalnya, yakni Amerika Serikat. Cobb telah melakukan kesalahan yang menyebabkannya harus pergi dari negaranya Amerika Serikat dan tidak dapat menemui anak-anaknya lagi. Terdorong oleh keinginan untuk menemui kembali anak-anaknya, Cobb menyanggupi permintaan Saito.

Cobb pun membentuk sebuah tim untuk melaksanakan misi dari Saito tersebut. Untuk melakukan inception secara baik, diperlukan seorang “arsitek mimpi”, yakni seorang yang merancang detil dalam mimpi sehingga orang yang menjadi sasaran dalam mimpi tersebut tidak menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Ariadne (diperankan oleh “Ellen Page”) menjadi arsitek mimpi dari rencana tersebut. Ariadne sendiri adalah nama dari putri Raja Minos  dalam mitologi Yunani yang membantu Theseus dengan memberi sebuah pedang dan benang untuk membantunya di dalam labirin, Sesuai dengan peran Ariadne dalam mimpi tersebut, yakni merancang sebuah labirin untuk sasarannya.

Misi dilakukan di dalam pesawat pada perjalanan dari Sydney ke Los Angeles yang dinaiki oleh Robert Fischer dan tim milik Cobb. Dalam misi tersebut, Cobb merencanakan untuk menanamkan informasi di tingkatan ketiga dalam mimpi. Yang dimaksud dengan tingkatan dalam mimpi adalah mimpi di dalam mimpi, yakni orang yang telah bermimpi akan dibuat untuk bermimpi kembali. Hal ini menyebabkan seseorang akan masuk semakin dalam ke alam mimpinya dan waktu yang dirasakannya juga menjadi semakin lama. Kelemahan dari cara ini adalah dibutuhkan obat sedatif (penenang) yang cukup kuat yang menyebabkan seseorang mungkin tidak akan terbangun dengan cara biasa seperti di dalam mimpi, misalnya : terbunuh. Satu-satunya cara untuk membangunkannya adalah dengan memberikan “kick”, yakni sebuah kejutan yang menyebabkan orang tersebut kaget. Contoh “kick” ini adalah seperti ketika terjatuh dari ketinggian yang sangat tinggi atau terjatuh ke dalam air, hal ini menyebabkan tubuh bereaksi secara spontan dan membangunkan orang tersebut dari mimpi. Kelemahan lain dari cara ini (mimpi di dalam mimpi) yakni alam bawah sadar akan bereaksi semakin kuat dan menyebabkan “shades” untuk lebih aktif menghancurkan orang-orang yang memasukinya.

Hal tidak terduga terjadi pada saat Cobb menjalankan misi tersebut menyebabkan dia harus masuk ke dalam tingkatan mimpi keempat. Klimaks dari film ini terjadi di tempat ini menentukan keberhasilan dari misi Cobb, kemampuan Cobb untuk melepaskan diri dari mimpi buruk masa lalunya, dan kemampuan Cobb untuk kembali ke dunia nyata.

Bingung membaca review dari film ini? Anda akan lebih bingung pada saat menontonnya. Untuk memahami waktu dari cerita ini, ingat saja bahwa setiap tingkatan mimpi menyebabkan waktu berjalan 12 kali lebih lama dari tingkatan sebelumnya. Hal ini akan membantu Anda untuk memahami alur cerita dari film ini. Tingkatan pertama adalah 12 (1 detik dunia nyata = 12 detik) kali lebih lama, tingkatan kedua adalah 144 (1 detik dunia nyata = 2 menit) kali lebih lama, tingkatan ketiga adalah 1728 (1 detik dunia nyata = 29 menit) kali lebih lama, dan tingkatan keempat adalah 20736 (1 detik dunia nyata = 6 jam) kali lebih lama. Untuk membantu memahami waktu yang terjadi, bayangkan saja bahwa di tingkatan pertama 2 jam di dunia nyata sama dengan  1 hari di dunia mimpi, di tingkatan kedua sama dengan 12 hari di dunia mimpi, di tingkatan ketiga sama dengan 5 bulan di dunia mimpi, dan di tingkatan keempat sama dengan 5 tahun di dunia mimpi.

Apabila Anda tidak terlalu suka dengan hal yang membingungkan, action dari film ini akan cukup menghibur Anda. Namun, Anda akan kehilangan kesenangan utama dari film ini, yakni mengikuti dan memahami segala intrik yang terjadi di dalamnya. Anda menyukai “The Matrix” ?, Anda akan menyukai film ini juga.

Selamat menonton ;)

Rating : 9.5/10

IMDB Rating : 9.1/10

Pet Distro Bandung

•August 15, 2010 • Leave a Comment

View Larger Map

Beberapa waktu lalu saat pergi makan-makan dengan teman di D’Cost bandung dekat jalan sukajadi, aku menemukan ada petshop yang baru buka di depan D’Cost. Karena tertarik dengan tampilan mukanya cukup “wah”, aku dan teman-temanku pun memutuskan untuk masuk melihat-lihat petshop yang bernama “Pet Distro” ini. Ternyata tampilan di dalamnya tidak kalah “wah” dari tampilan luarnya.

Pet Distro ini menyediakan berbagai jenis peralatan bagi hewan peliharaan, mulai dari mainan, baju, tempat makan, tempat tidur, peralatan mandi, sisir, dan beragam kebutuhan lainnya. Selain itu pet distro juga menyediakan beragam makanan bagi hewan peliharaan, mulai dari makanan berat, hingga snack yang memiliki beragam bentuk. Tentu saja sebagai sebuah pet shop, Pet Distro ini juga menyediakan hewan peliharaan yang dapat dibeli. Sepertinya hewan peliharaan yang dijual disini hanya Anjing dan hamster, sebab aku tidak melihat ada hewan lain selain dua jenis itu.

Bukan hanya menjual hewan peliharaan dan berbagai perlengkapannya, Pet Distro juga menyediakan jasa grooming bagi hewan peliharaan kesayangan. Bagian belakang dari Pet Distro disediakan sebuah arena bermain bagi hewan peliharaan berupa tanah berumput dan sebuah kolam renang. Selain itu bagi pemilik yang menunggu hewan peliharaannya sedang di-grooming, dapat juga menunggu di sofa-sofa yang disediakan sembari menikmati minuman atau makanan yang dapat dipesan di tempat itu.

Tampilan yang bersih, dan tidak berbau apek seperti beberapa pet shop lainnya menjadi nilai tambah bagi Pet Distro ini dibandingkan pet shop lainnya. Harga dari benda yang dijual di Pet Distro ini juga tidak terlalu mahal, beberapa malah lebih murah dari pet shop lainnya.

Buat Anda yang ingin mencari pet shop di bandung, untuk sekedar melihat-lihat hewan peliharaan yang lucu, atau membeli perlengkapan bagi hewan peliharaan kesayangan Anda, atau bahkan membeli hewan peliharaan baru, hingga melakukan perawatan (grooming) bagi hewan peliharaan Anda, barangkali Pet Distro dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik.

Sayangnya Pet Distro ini terletak di jalan sukajadi yang apabila pada hari libur atau weekend (jumat sore hingga minggu malam) sering macet dan jalannya dialihkan. Apabila Anda berencana untuk pergi kesana pada hari-hari tersebut, bersiaplah untuk meluangkan waktu 1 atau 2 jam di perjalanan.

This slideshow requires JavaScript.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.